Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Krisis Pengangguran Global Membayangi Kuartal Terakhir di 2020

Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO memperkirakan baru-baru ini bahwa dunia akan kehilangan jam kerja yang setara dengan 245 juta pekerjaan penuh waktu pada kuartal terakhir tahun ini.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 05 Oktober 2020  |  11:41 WIB
Pelayan di salah satu bar di AS tengah melayani pelanggan. - Bloomberg
Pelayan di salah satu bar di AS tengah melayani pelanggan. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi global memasuki kuartal terakhir tahun ini dengan pukulan pada pasar tenaga kerja yang lebih dalam dari perkiraan sebelumnya.

Hal itu tampak pada prospek pekerjaan di sejumlah negara dan kawasan seiring dengan jumlah kasus virus yang terus meningkat. Selaras dengan itu, Organisasi Perburuhan Internasional atau ILO memperkirakan baru-baru ini bahwa dunia akan kehilangan jam kerja yang setara dengan 245 juta pekerjaan penuh waktu pada kuartal terakhir tahun ini.

Mengawali kuartal ini, perusahaan blue-chip mulai dai Walt Disney Co. hingga Royal Dutch Shell Plc dan Continental AG mengumumkan puluhan ribu pemutusan hubungan kerja dalam periode 24 jam. Kemudian pada Jumat pekan lalu, Departemen Tenaga Kerja AS mengungkapkan perolehan pekerjaan yang melambat pada September, dengan banyak warga menyerah untuk mencari pekerjaan.

Sementara itu, program cuti utama Inggris akan berakhir akhir bulan ini. Sebuah kelompok yang mewakili industri memperkirakan lebih dari 90.000 orang akan diberhentikan dalam beberapa minggu mendatang.

Kluster-kluster baru infeksi virus menggarisbawahi kerentanan ekonomi yang sudah terpukul terhadap kerusakan lebih lanjut yang pada akhirnya dapat memengaruhi mata pencaharian. Wabah terbaru di Paris, misalnya, akan memaksa bar dan restoran tutup, sementara London berada pada titik kritis.

"Gelombang kedua infeksi, PHK perusahaan besar di AS dan berakhirnya skema cuti di Inggris menandai risiko pengangguran akan meningkat hingga akhir tahun. Berita buruk untuk prospek jangka pendek dan jangka menengah. Pukulan pada pasar tenaga kerja yang lebih dalam mengancam pemulihan, bahkan setelah vaksin Covid-19 akhirnya ditemukan," kata Tom Orlik, kepala ekonom Bloomberg, dilansir Senin (5/1/2020).

ILO dalam laporan terbarunya merevisi perkiraan kehilangan jam kerja global pada kuartal kedua tahun ini dari sebelumnya 14 persen setara 400 juta pekerjaan penuh waktu menjadi 17,3 persen setara 495 juta pekerjaan.

Negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah adalah yang paling terpukul, setelah mengalami perkiraan penurunan jam kerja sebesar 23,3 persen atau 240 juta pekerjaan pada kuartal kedua tahun ini.

Kehilangan jam kerja diperkirakan akan tetap tinggi pada kuartal ketiga 2020 di angka 12,1 persen atau 345 juta pekerjaan. Selain itu, revisi proyeksi untuk kuartal keempat menunjukkan prospek yang lebih suram dari perkiraan sebelumnya. Dalam skenario dasar, kehilangan jam kerja pada kuartal terakhir 2020 diperkirakan mencapai 8,6 persen, atau 245 juta pekerjaan.

Kerugian jam kerja yang tinggi ini juga dapat diterjemahkan ke kehilangan pendapatan. Perkiraan hilangnya pendapatan tenaga kerja menunjukkan penurunan global sebesar 10,7 persen selama tiga kuartal pertama 2020 dibandingkan dengan periode yang sama 2019. Penurunan itu bernilai US$3,5 triliun atau 5,5 persen dari produk domestik bruto (PDB) global untuk tiga kuartal pertama 2019.

Kehilangan pendapatan tenaga kerja tertinggi terjadi di negara-negara berpenghasilan menengah. Angkanya mencapai 15,1 persen di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah dan 11,4 persen di negara-negara berpenghasilan menengah ke atas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenaga kerja ilo pengangguran phk

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top