Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Turki dan Yunani akan Lanjutkan Perundingan Selesaikan Sengketa Maritim

Pemerintah dari kedua sisi mengonfirmasi dalam pernyataan terpisah bahwa mereka setuju untuk mengadakan putaran ke-61 dalam perundingan eksplorasi di Istanbul.
Fransisco Primus Hernata
Fransisco Primus Hernata - Bisnis.com 24 September 2020  |  12:52 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - Reuters
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Turki dan Yunani akan melanjutkan perundingan untuk menyelesaikan sengketa di wilayah Timur Mediterania, setelah aksi unjuk kekuatan oleh angkatan laut kedua sisi selama musim panas membuat kedua negara di ambang konflik.

Pemerintah dari kedua sisi mengonfirmasi dalam pernyataan terpisah bahwa mereka setuju untuk mengadakan putaran ke-61 dalam perundingan eksplorasi di Istanbul. Surat yang dikeluarkan oleh kantor Recep Tayyip Erdogan datang setelah presiden Turki mengadakan panggilan telepon dengan Konselir Jerman, Angela Merkel dan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel.

Dimulainya kembali negosiasi akan membantu dalam mengurangi ketegangan di wilayah kaya energi, di mana Turki, Yunani, dan Siprus berselisih mengenai batas-batas maritim. Tetapi sehari sebelumnya, AS menolak peta kontroversial yang memperburuk klaim teritorial yang bersaing, dengan mengatakan bahwa peta itu tidak memiliki signifikansi hukum.

Para pemimpin Uni Eropa dijadwalkan bertemu di Brussel pada hari Kamis (24 September) untuk membahas bagaimana menangani kegiatan eksplorasi energi Turki di perairan yang diperebutkan, tetapi KTT itu ditunda seminggu, setelah Michel, yang memimpin pertemuan tersebut, terpaksa dikarantina. Presiden Dewan Uni Eropa melakukan kontak dekat dengan seorang petugas keamanan yang dites positif Covid-19, menurut tweet oleh juru bicaranya.

Ketegangan antara rival di wilayah regional itu melonjak musim panas ini setelah kapal-kapal Turki meluncurkan survei energi dan melakukan latihan angkatan laut di perairan yang di mana Turki dan Yunani sama-sama menegaskan hak ekonomi eksklusif, dan mulai mengeksplorasi gas alam di lepas pulau Siprus yang terbagi.

Uni Eropa telah mengancam akan memberikan sanksi terhadap Turki atas klaim maritimnya di Mediterania Timur, dan negara anggotanya, Siprus, mendesak untuk memperluas daftar hitam entitas dari Turki. Siprus pada hari Senin (21 September) menolak untuk menandatangani sanksi terhadap rezim di Belarus kecuali negara anggota lain juga setuju untuk memperluas daftar sanksi terhadap Turki.

Turki dan Yunani rencananya sudah memulai rundingan mediasi yang dibantu dengan Jerman semenjak bulan lalu, tetapi setelah Ankara menahan melakukan eksplorasi di daerah tersebut atas permintaan Merkel. Tetapi rencana tersebut gagal setelah Yunani menandatangani perjanjian perbatasan maritim dengan Mesir dan Turki menuduh Yunani bertindak dengan itikad buruk. Tukri telah menandatangi perjanjian perbatasan maritime dengan Libya pada akhir tahun lalu.

Turki dan Yunani, yang merupakan sama-sama anggota NATO, telah mengirimkan angkatan laut mereka ke area tersebut, dan Perancis mulai memperluas kehadiran kekuatan militer mereka dalam reaksi mereka terhadap langkah yang diambil Turki.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

turki yunani
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top