Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Aktivitas Militer China Meningkat, Utusan AS Sambangi Taiwan

Kunjungan dilakukan meski di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing mengenai Taiwan, termasuk serangkaian kegiatan militer China yang berkelanjutan di dekat pulau itu.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 17 September 2020  |  15:53 WIB
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen berbicara saat latihan militer Han Kuang yang mensimulasikan invasi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) ke pulau itu, di Changhua. - Reuters
Presiden Taiwan Tsai Ing-wen berbicara saat latihan militer Han Kuang yang mensimulasikan invasi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) ke pulau itu, di Changhua. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Salah satu pejabat paling senior Departemen Luar Negeri AS dijadwalkan mendarat di Taipei, Taiwan, hari ini, Kamis (17/9/2020).

Kunjungan dilakukan meski di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Beijing mengenai Taiwan, termasuk serangkaian kegiatan militer China yang berkelanjutan di dekat pulau itu.

Keith Krach, Wakil Menteri untuk Pertumbuhan Ekonomi, Energi, dan Lingkungan, akan menjadi pejabat senior AS kedua yang mengunjungi Taiwan dalam dua bulan terakhir setelah lawatan Sekretaris Layanan Kemanusiaan dan Kesehatan Alex Azar bulan lalu.

Sementara itu, China telah memprotes kunjungan tersebut dan mendesak Washington untuk memutuskan segala hubungan resmi dengan Taipei untuk menghindari hubungan dengan AS yang semakin memburuk.

Adapun, sebelum kedatangan Krach, Kementerian Pertahanan Nasional Taipei mengatakan dua pesawat milik China memasuki zona identifikasi pertahanan udara Taiwan pada Rabu malam.

Langkah itu dilakukan setelah militer China memicu kekhawatiran pekan lalu dengan mengirim lebih dari 20 pesawat ke zona tersebut selama dua hari berturut-turut.

Sementara itu, AS berencana menawarkan hingga tujuh sistem senjata utama kepaada Taiwan, termasuk ranjau dan rudal jelajah, sebuah langkah yang menambah tekanan pada Presiden Xi Jinping.

China mengulangi bahwa pihaknya dengan tegas menentang setiap interaksi resmi antara AS dan Taiwan.

"AS bersikeras mengatur perjalanan ke Taiwan oleh Wakil Sekretaris Krach. Ini melanggar prinsip 'satu China' dan tiga komunike bersama antara kedua belah pihak," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China Wang Wenbin mengatakan pada briefing harian di Beijing. Dia melanjutkan China akan membuat tanggapan yang diperlukan sehubungan dengan perkembangan situasi.

Pada awalnya bermaksud untuk membahas kerja sama ekonomi yang lebih besar dengan pemerintahan Presiden Tsai Ing-wen. Namun pengumuman resmi Departemen Luar Negeri tentang kunjungan tersebut tidak menyebutkan pembicaraan ekonomi, hanya mengatakan bahwa dia akan melakukan perjalanan ke Taiwan untuk menghadiri upacara peringatan untuk mantan Presiden Lee Teng-hui.

Meskipun kunjungan Krach ke Taipei telah dinilai sebagai sinyal terbaru dukungan AS yang lebih vokal untuk Taiwan dalam menghadapi tekanan militer dan diplomatik yang sedang berlangsung dari China, terdapat indikasi ketidaksenangan AS terhadap pulau tersebut.

Taiwan berada diantara perseteruan AS dan China dan ditekan untuk memilih keberpihakannya untuk mendapat pengaruh global. China minggu ini menuduh AS melakukan intimidasi ekonomi atas usulan penjualan paksa aplikasi TikTok milik China ke perusahaan AS dengan alasan keamanan nasional.

Sedangkan AS telah meminta agar pemasok perangkat keras Taiwan, seperti Taiwan Semiconductor Manufacturing Co., membatasi penjualan teknologi mutakhir ke Huawei Technologies Co. milik China.

AS juga menolak keputusan Organisasi Perdagangan Dunia bahwa mereka telah melanggar peraturan internasional dengan memberlakukan tarif atas lebih dari US$234 miliar ekspor China.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat taiwan
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top