Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasien Covid-19 Terkena Happy Hypoxia, Kenali Penyebab dan Gejalanya

Meskipun kelihatan tidak sesak napas, namun penderita lemas, dan ketika diukur kadar oksigennya hanya sekitar 60-70 persen.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 16 September 2020  |  13:25 WIB
Ilustrasi-Petugas medis memindahkan pasien ke ruang isolasi dalam simulasi penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Lavalette, Malang, Jawa Timur, Jumat (13/3/2020). - Antara/Ari Bowo Sucipto
Ilustrasi-Petugas medis memindahkan pasien ke ruang isolasi dalam simulasi penanganan pasien Covid-19 di Rumah Sakit Lavalette, Malang, Jawa Timur, Jumat (13/3/2020). - Antara/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA – Makin banyak tersebar kabar tentang para pasien infeksi Virus Corona yang terkena happy hypoxia melihat tingginya kasus tanpa gejala.

Sebetulnya, apakah happy hypoxia itu?

Dokter Spesialis Paru dari RS Persahabatan Erlina Burhan mengatakan bahwa happy hypoxia merupakan kondisi kekurangan kadar oksigen di dalam darah, namun tidak terjadi gejala sesak pada penderita.

“Biasanya kalau kekurangan oksigen orang akan sesak atau ada gejalanya, tapi ini tidak terjadi pada beberapa pasien, karena diketahui pada kondisi itu terjadi kerusakan saraf penghantar sensor sesak ke otak, sehingga otak tidak merespons dengan sesak,” ungkap Erlina, Rabu (16/9/2020).

Kasus happy hypoxia pertama kali terjadi pada April sampai Mei yang sebelumnya ditulis dalam sejumlah jurnal dengan istilah Silent Hypoxia.

“Pada kasus pertama itu ditemukan ada laki-laku bergejala Covid-19 lama kelamaan batuknya bertambah, makin lemas, tapi tidak sesak, dia masih bisa melakukan kegiatan sehari-hari, tidak kelihatan sesak. Ini yang dilaporkan kena happy hypoxia,” terangnya.

Meskipun kelihatan tidak sesak napas, namun penderita lemas, dan ketika diukur kadar oksigennya hanya sekitar 60-70 persen. Padahal, orang normal umumnya memiliki kadar oksigen dalam darah sebanyak 95-100 persen.

Lantaran pasokan oksigen di dalam darah rendah, maka oksigen yang disebarkan ke organ tubuh pun menipis. Hal ini bisa berakibat fatal apabila tidak diatasi cepat, karena bisa menimbulkan kegagalan kinerja organ.

Erlina menegaskan bahwa penderita happy hypoxia pda pasien Covid-19 adalah penderita yang bergejala, sehingga bagi orang yang merasa sehat atau penderita Covid-1 tanpa gejala tidak perlu panik.

Adapun gejala umumnya yang bisa dilihat antara lain batuk yang menetap, pasien makin lemas, dan apabila sudah parah bisa terlihat di bibir atau ujung jari yang membiru.

“Tapi jangan sampai membiru, kalau sudah kelihatan batuknya menetap dan mulai lemas baiknya segera bawa ke rumah sakit,” tegasnya.

Gejala Covid-19 sendiri sangat bervariasi, ada yang hanya kehilangan penciuman, ada yang hanya pusing. Tapi kalau batuk terus menerus, artinya ada kelainan di paru dan harus diwaspadai.

“Makanya yang perlu diperhatikan adalah kenali gejalanya. Biasanya kalau sudah hypoxia dalam waktu yang cukup lama pasien akan mengalami penurunan kesadaran dan akan fatal akibatnya,” jelas Erlina.

Happy hypoxia tidak bisa menular karena bukan penyakit sendiri, melainkan salah satu gejala dari penderita Covid-19.

Para penderita Covid-19 bergejala ringan bisa melakukan pencegahan atau pemeriksaan awal sendiri menggunakan alat pulse oximeter.

Dia mengimbau agar alat ini tidak perlu dibeli apabila tidak bergejala sama sekali agar tak terjadi kelangkaan seperti yang terjadi pada masker di awal pandemi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top