Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Yoshihide Suga dan Teka-teki Reformasi Ekonomi Jepang

Yoshihide Suga diniali tidak hanya akan melanjutkan Abenomics, tetapi kemungkinan besar meningkatkan reformasi ekonomi bertajuk Third Arrow yang diusung Shinzo Abe.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 15 September 2020  |  10:24 WIB
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menjadi salah satu calon kuat untuk penganti Shinzo Abe - Bloomberg
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga menjadi salah satu calon kuat untuk penganti Shinzo Abe - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Setelah memenangkan pemilihan di internal Partai Demokrat Liberal atau LDP, Yoshihide Suga secara resmi akan diumumkan sebagai Perdana Menteri Jepang pada esok, Rabu (15/9/2020). 

Suga telah lama dipandang sebagai salah satu kandidat terkuat pengganti Shinzo Abe yang mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Namun,  kecepatan para pemimpin partai untuk mendukungnya tetap mengejutkan.

Kini pengamat pasar tengah mengamati dampak terpilihnya Suga bagi pasar saham Negeri Matahari Terbit tersebut. Kalangan analis menilai dalam jangka panjang, belum ada perubahan besar dalam kebijakan ekonomi Jepang sampai ancaman pandemi virus corona lenyap.

"Jepang pulih lebih cepat dari perkiraan pasar tiga bulan lalu. Pertumbuhan moneter yang kuat disertai dengan keuntungan nyata harus menjaga harga saham Jepang," tulis analis Jefferies termasuk Sean Darby setelah Suga ditunjuk oleh partainya, dilansir Bloomberg, Selasa (15/9/2020).

Di balik suksesi perdana menteri, ada kelompok yang mungkin kurang senang terhadap terpilihnya Suga, yakni investor di operator seluler. Kenapa begitu?

Suga telah menghabiskan sebagian besar waktu dua tahun terakhir untuk menyerang tiga operator lama karena dianggap kurang bersaing. Menurut Suga, tiga operator tersebu telah menyebabkan pelanggan Jepang memiliki tagihan telepon seluler yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain.

Dia juga berulang kali menyoroti margin keuntungan yang besar dari ketiga operator selula.. Pada Minggu pekan lalu, dia mengancam akan menaikkan biaya penggunaan gelombang radio.

NTT Docomo Inc. dan KDDI Corp., dua operator terbesar di negara itu, telah kehilangan nilai pasar gabungan US$20 miliar sejak Abe mengumumkan pengunduran dirinya.

Sementara itu, saham Rakuten Inc., yang baru-baru ini memasuki pasar sebagai operator keempat dalam sebuah langkah untuk memacu persaingan, telah meningkat 31 persen.

Setelah pengangkatan Suga kemarin, saham Docomo dan KDDI terus meluncur turun lebih dari 2 persen.

"Dengan pengecualian beberapa saham telekomunikasi utama, pasar risiko Jepang senang dengan status terdepan Suga yang jelas, dan kemungkinan akan terus demikian setelah kemenangannya yang mudah," tulis John Vail, kepala strategi global Nikko Asset Management.

Vail mengatakan Suga tidak hanya akan melanjutkan Abenomics, tetapi kemungkinan besar meningkatkan reformasi ekonomi bertajuk Third Arrow yang diusung Abe. Jepang terus menjadi salah satu pemerintah yang paling stabil dan ramah bisnis di negara maju.

Salah satu bidang fokus Suga yang telah mendongkrak pasar saham sejak dia berkampanye untuk menggantikan Abe adalah seruan untuk menanggung perawatan kesuburan di bawah sistem asuransi nasional. Hal ini dilakukan membendung penurunan angka kelahiran di negara itu.

Saham di perusahaan yang terlibat dalam perawatan kesuburan pun melonjak. Aska Pharmaceutical Co. naik 15 persen dan CellSource Co bertambah 40 persen sejak Abe mengundurkan diri pada 28 Agustus.

Kini setelah Suga menjadi orang nomor satu di partai berkuasa, fokus beralih pada siapa yang akan menduduki jabatan di kabinetnya.

Deregulasi, reformasi struktural, dan dukungan untuk wilayah regional Jepang diharapkan menjadi fokus kabinet, yang pertama-tama harus mengatasi pukulan pandemi virus corona yang sedang berlangsung.

Suga mengatakan kabinetnya akan diisi dengan orang-orang reformis.

Menurut Mitsubishi UFJ Morgan Stanley Securities, reformasi struktural akan mendukung tingkat pertumbuhan potensial Jepang dan memberikan tekanan ke atas pada hasil obligasi dalam jangka panjang.

Laporan media lokal menunjukkan bahwa Menteri Keuangan Taro Aso dan Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi akan mempertahankan peran mereka dalam pemerintahan baru.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Katsunobu Kato sedang diincar untuk menggantikan Suga sebagai Sekretaris Kabinet.

Namun pertanyaan utama bagi pengamat pasar kemungkinan besar adalah prospek kemungkinan pemilihan yang cepat.

Menurut Analis,  reformasi dan deregulasi industri yang sangat ingin dicapai oleh Suga kemungkinan akan membutuhkan waktu untuk diterapkan.

"Kami mengharapkan perhatian untuk fokus pada apakah pemerintahan baru akan melakukan pemungutan suara pada akhir tahun dalam upaya untuk mengamankan waktu yang cukup untuk implementasi kebijakan," kata Ekonom Goldman Sachs Naohiko Baba dalam sebuah laporan untuk nasabahnya.

Dengan dukungan Suga yang tinggi, pemilihan yang cepat bisa menjadi hal yang positif untuk pasar saham.

Analis SMBC Nikko Masashi Akutsu dan Hikaru Yasuda menulis bahwa harga saham cenderung mulai naik dari sekitar 30 hari sebelum pemilihan majelis rendah dan semakin cepat setelah pemungutan suara, dalam kasus ketika LDP yang berkuasa tidak kehilangan kursi.

Suga mengatakan bahwa sulit untuk membubarkan majelis rendah dan melakukan pemilihan cepat karena situasi virus. Namun dia tetap mengindikasikan bahwa hal itu dapat berubah jika pandemi mulai mereda.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

jepang shinzo abe ekonomi jepang bursa jepang Yoshihide Suga
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top