Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

UE Umumkan Pengetatan Target Iklim 2030 Pekan Depan

Komisi Eropa kemungkinan mengungkapkan target pengurangan emisi 2030 yang lebih ketat pekan depan. Komisi Eropa mungkin akan membahas target itu pada pertemuan pada 15 September mendatang, sebelum mengadopsinya dalam prosedur tertulis sehari kemudian.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 08 September 2020  |  21:00 WIB
Sepotong gletser Perito Moreno pecah dan terjuun ke Danau Argentino di Santa Cruz, Argentina. - Bloomberg
Sepotong gletser Perito Moreno pecah dan terjuun ke Danau Argentino di Santa Cruz, Argentina. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Komisi Eropa, badan eksekutif Uni Eropa (UE), kemungkinan mengungkapkan target pengurangan emisi 2030 yang lebih ketat pekan depan.

Hal itu diprediksi membuka negosiasi yang penuh ketegangan antara pemerintah dan anggota parlemen mengenai percepatan “pergeseran hijau” yang akan memerlukan perbaikan menyeluruh dalam fungsi ekonomi Benua Biru.

Dilansir Bloomberg pada Selasa (8/9/2020), UE sedang mempertimbangkan untuk memperketat target pengurangan karbonnya untuk dekade berikutnya menjadi 50 persen 55 persen dari yang sebelumnya 40 persen. Hal itu akan menuntut investasi ratusan miliar euro selama dekade berikutnya.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen akan mengumumkan target yang lebih ambisius dalam pidato kebijakan utamanya.

Menurut sumber yang dekat dengan masalah ini, Komisi Eropa mungkin akan membahas target itu pada pertemuan pada 15 September mendatang, sebelum mengadopsinya dalam prosedur tertulis sehari kemudian.

Proposal ini merupakan bagian dari European Green Deal, serangkaian tindakan komprehensif yang bertujuan mengubah Eropa menjadi benua netral iklim pertama di dunia pada 2050.

Komisi Eropa juga menginginkan pembersihan lingkungan yang akan memengaruhi segalanya mulai dari produksi energi hingga transportasi dan pertanian, untuk menjadi mesin pemulihan ekonomi dari pandemi virus corona.

Target 2050 akan menyesuaikan dengan tujuan baru tersebut dan ditambahkan sebagai amendemen undang-undang. Namun, kebijakan baru itu memerlukan persetujuan dari Parlemen Eropa dan pemerintah nasional.

Adapun anggota parlemen ingin menyelesaikan kesepakatan tentang bentuk akhir undang-undang iklim pada akhir tahun ini.

"Biaya aksi iklim mungkin tampak tinggi, tetapi itu tidak ada apa-apanya dengan konsekuensi dari tidak berbuat apa-apa," kata Frans Timmermans, Wakil Presiden Pertama and Eksekutif Wakil Presiden, pekan lalu.

Negosiasi diperkirakan sulit karena perbedaan antara negara anggota dalam sumber energi, kekayaan, dan kekuatan industri.

Rencana tersebut telah menumbuhkan kekhawatiran dari industri. Banyak sektor memperingatkan pembuat kebijakan tentang risiko kehilangan daya saing dengan negara yang memiliki kebijakan iklim yang lebih longgar.

Sasaran 55 persen ditetapkan untuk menaikkan harga izin di Sistem Perdagangan Emisi UE, pasar karbon terbesar di dunia yang mencakup lebih dari 40 persen polusi di kawasan itu.

Tunjangan itu sudah mendekati rekor tertinggi, diperdagangkan pada 27 euro dibandingkan dengan sekitar 7 euro pada 3 tahun lalu. Namun, pembuat kebijakan UE bertekad untuk bergerak cepat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uni eropa perubahan iklim

Sumber : Bloomberg

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top