Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Selisih Dana Bantuan Subsidi Upah, Netty Aher Kritik Pemerintah

Seharusnya, anggaran yang dibutuhkan lebih kecil yakni Rp 37.740.556.800.000 atau Rp 37,7 triliun.
Setyo Aji Harjanto
Setyo Aji Harjanto - Bisnis.com 30 Agustus 2020  |  14:38 WIB
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani - Istimewa
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kritikan disampaikan Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetyani Aher atas kelebihan anggaran Bantuan Subsidi Upah senilai Rp129 miliar.

Total anggaran Bantuan Subsidi Upah (BSU) untuk 15,7 juta pekerja mencapai Rp 37.870.345.011.000 atau Rp 37,8 triliun.

Seharusnya, kata Netty dalam rapat kerja dengan Kemenaker, anggaran yang dibutuhkan lebih kecil yakni Rp 37.740.556.800.000 atau Rp 37,7 triliun.

Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziah mengatakan selisih sekitar Rp129 miliar yang dianggarkan pemerintah ditujukan untuk biaya transfer antarbank apabila rekening penerima manfaat bukan bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).

"Seharusnya Menaker menjelaskan tanpa harus ditanya kalau ada penambahan biaya transfer, agar semua pihak tahu, baik jumlahnya maupun alasan di balik penambahannya. Jika saat raker tidak ada yang teliti untuk menanyakan, maka itu akan terlewati begitu saja," kata Netty dalam keterangan resmi, Minggu (30/08/2020).

Besarnya biaya transfer ini dinilai Netty mencederai rasa keadilan. Hal ini karena ada banyak pekerja informal yang tidak tersentuh program, misalnya, petani yang mencapai 33 juta.

"Dari paparan pemerintah, pekerja informal tidak tersentuh sama sekali. Sementara ada dana yang sangat besar hanya untuk biaya transfer, ini kan tidak adil dan berpotensi diskriminatif. Atas dasar apa pemerintah memprioritaskan pekerja dengan gaji di bawah 5 juta untuk mendapatkan subsidi dan mengabaikan pekerja sektor lain?," ujarnya.

Dia juga menyesalkan kurangnya perhatian pemerintah pada tenaga kerja sektor informal, pekerja ter-PHK atau dirumahkan yang tidak termasuk dalam sasaran penerima subsidi upah.

"Bagaimana nasib pekerja yang di-PHK, dirumahkan atau pekerja informal? Mereka juga tengah menunggu bentuk perhatian negara. Belum lagi bicara petani, nelayan, guru honorer, supir ambulance atau petugas kebersihan di RS rujukan Covid, mana bentuk perhatian pemerintah? Mereka juga sangat membutuhkan bantuan agar bisa bertahan hidup, bukan hanya pegawai yang bergaji di bawah 5 juta yang masih berpenghasilan," gugat Netty.

Dia pun meminta pemerintah mencari solusi untuk membantu para pekerja ter-PHK atau pekerja sektor lainnya.

"Pikirkan skema bantuan untuk semua agar program memenuhi prinsip keadilan dan tidak dinilai diskriminatif," tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dpr bantuan sosial
Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top