Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Inggris Resesi, Ekonomi Terkontraksi 20,4 Persen

Rekor penurunan ini secara resmi mendorong Inggris ke dalam resesi pertamanya sejak 2009.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 12 Agustus 2020  |  13:23 WIB
Penumpang kereta bawah tanah di London mengenakan masker untuk menghindari penularan virus corona Covid-19. - Bloomberg
Penumpang kereta bawah tanah di London mengenakan masker untuk menghindari penularan virus corona Covid-19. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Ekonomi Inggris menderita lebih buruk daripada negara besar Eropa lainnya selama penguncian virus corona. Negeri Ratu Elizabeth itu membukukan kontraksi 20,4 persen pada kuartal kedua yang akan menimbulkan lebih banyak pertanyaan tentang penanganan pandemi oleh pemerintah.

Dilansir dari Bloomberg, rekor penurunan ini secara resmi mendorong Inggris ke dalam resesi pertamanya sejak 2009, setelah pada kuartal pertama tahun ini terkontraksi 2,2 persen. Pengumuman angka ini mengikuti laporan yang menunjukkan ratusan ribu orang kehilangan pekerjaan.

Angka-angka tersebut menambah bukti bahwa Inggris membayar harga yang mahal karena lebih lambat daripada kebanyakan negara-negara tetangganya untuk melakukan lockdown pada Maret. Negara ini juga memiliki angka kematian tertinggi di Eropa akibat virus corona.

Sementara itu, penurunan PDB melebihi 18,5 persen tercatat di Spanyol, negara dengan kinerja terburuk di Uni Eropa. Ekonomi AS menyusut 9,5 persen pada periode yang sama.

Sementara pemulihan sedang berlangsung karena pembatasan dilonggarkan, output Inggris melonjak 8,7 persen pada Juni. Namun ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan bahwa pemulihan itu dapat segera surut.

Lonjakan infeksi yang terlokalisasi telah meningkatkan kekhawatiran lebih banyak penutupan, dukungan upah pemerintah dihapuskan, dan perusahaan menghadapi tarif yang lebih tinggi jika Inggris gagal menyetujui kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa pada akhir tahun.

Bank of England telah menyoroti pasar tenaga kerja sebagai perhatian utama. Para pejabat mengkhawatirkan lonjakan pengangguran ketika dukungan pekerjaan pemerintah ditarik akhir tahun ini. Data menunjukkan jumlah karyawan yang digaji sudah turun sekitar 730.000 dibandingkan dengan Maret.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekonomi inggris resesi ekonomi

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top