Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Hubungan dengan AS Memanas, Impor Pertanian China Melonjak

Kenaikan impor tampaknya menunjukkan Beijing memenuhi elemen pembelian pertanian dari perjanjian perdagangan fase satu dengan AS, tetapi juga menyoroti kesenjangan dalam pasokan domestik, termasuk biji-bijian strategis.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 04 Agustus 2020  |  12:45 WIB
Suasana di Pelabuhan Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China, 8 September 2018. - REUTERS/Stringer
Suasana di Pelabuhan Lianyungang, Provinsi Jiangsu, China, 8 September 2018. - REUTERS/Stringer

Bisnis.com, JAKARTA - Impor barang pertanian China melonjak pada Juni karena pembeli menimbun bahan pangan mengantisipasi gangguan pasokan yang disebabkan oleh memburuknya hubungan dengan Amerika Serikat.

Para analis juga mengatakan hal itu untuk mengisi kesenjangan pada produksi dalam negeri. Pada akhir bulan lalu, impor biji-bijian termasuk gandum, barley, jagung, beras, sorgum, dan kedelai, telah melonjak 80,6 persen dari tahun sebelumnya, meningkat dari kenaikan 32,4 persen yang dicatat pada Mei dan pembalikan tajam dari penurunan 6,4 persen pada April.

Di sisi lain, kenaikan impor tampaknya menunjukkan Beijing memenuhi elemen pembelian pertanian dari perjanjian perdagangan fase satu dengan AS, tetapi juga menyoroti kesenjangan dalam pasokan domestik, termasuk biji-bijian strategis.

Ketahanan pangan untuk 1,4 miliar orang China telah lama menjadi prioritas utama bagi pemerintah pusat. Para analis mengatakan pihak berwenang telah berusaha dalam beberapa bulan terakhir untuk mencegah inflasi harga makanan yang disebabkan oleh pandemi dan banjir di China tengah dan timur.

Impor barang pertanian kemungkinan akan tetap kuat di paruh kedua tahun ini mengingat kesenjangan dalam pasokan domestik.

Pembeli telah mengimpor makanan dari seluruh dunia, menunjukkan China sedang melakukan diversifikasi pasokan makanannya dan juga berusaha untuk memenuhi kesepakatan perdagangan AS.

Rosa Wang, analis penyedia data pertanian JCI China yang berbasis di Shanghai, menghubungkan kenaikan impor pertanian dengan kesepakatan perdagangan fase pertama dan lonjakan harga produk dalam negeri.

Banyak perusahaan China juga membeli produk ekstra untuk melindungi terhadap kerusakan lebih lanjut dalam hubungan AS-China.

"Untuk perusahaan biasa, seperti perusahaan perdagangan dan pengembangbiakan, mereka lebih peduli untuk memastikan produksi, memastikan bahwa hewan mereka memiliki makanan, sehingga Anda dapat melihat bahwa impor hampir semua jenis biji-bijian telah meningkat pada periode Januari-Juni," kata Wang dilansir South China Morning Post, Selasa (4/8/2020).

Dia melanjutkan, jika hubungan dua negara itu tidak baik, maka perusahaan akan mencoba untuk membeli berbagai produk alternatif untuk kedelai AS.

"Kedelai Brasil tidak memiliki risiko politik, meskipun keunggulan harga mereka terbatas, jadi jika Anda dapat membeli, Anda akan siap menggunakan pasokan Brasil terlebih dahulu sebagai cadangan," lanjutnya.

China mengimpor 10,51 juta ton kedelai dari Brasil pada Juni, naik 91 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Meskipun impor pertanian akan kuat pada paruh kedua tahun ini, Wang kurang yakin bahwa pasokan ini akan diisi oleh petani AS.

Sementara itu, impor gandum China 3,35 juta ton pada semester pertama tahun ini, di bawah 3,49 juta yang diimpor selama 2019. Pembeli juga bersedia membayar lebih untuk barang-barang tertentu, dengan impor daging babi meningkat 142,7 persen pada semester pertama berdasarkan volume, tetapi naik 282,1 persen berdasarkan nilai.

Menurut data dari Administrasi Umum Kepabeanan, impor sorgum China, 150 kali lebih tinggi volumenya pada semester pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juni saja, impor sorgum melonjak 21.296 persen menjadi 680.000 ton.

Impor gandum hampir tiga kali lipat pada Juni dan pembelian jelai meningkat dua kali lipat berdasarkan volume. Sedangkan pembelian kedelai naik 72,7 persen.

Meskipun badan statistik tidak memberikan rincian untuk negara asal, data AS menunjukkan China memesan rekor tertinggi 1,96 juta ton jagung dan setidaknya 1,69 juta ton kedelai awal bulan ini. Impor sorgum AS juga telah meningkat sejak Maret ketika China menawarkan untuk membebaskan tarif tambahan pada produk.

"Ada ketidakpastian seputar produksi biji-bijian musim gugur [China], sehingga impor makanan akan terus tumbuh [di paruh kedua tahun ini]," kata Analis Senior Beijing Orient Agribusiness Consulting Ma Wenfeng.

Meningkatnya ketegangan dengan AS mungkin berdampak pada impor makanan China dalam jangka pendek, tetapi tidak akan secara fundamental mengubah aliran perdagangan kedelai antara kedua negara. Hal itu mengingat kesenjangan pasokan yang besar di China.

"Impor China tidak bisa dihindari, begitu juga ekspor AS. Jika tidak, AS tidak dapat menggunakan semua barang pertanian yang dihasilkannya," kata Ma.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china amerika serikat pertanian
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top