Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PM Inggris Kaji Kebijakan Lockdown Kedua untuk London

Menurut Sunday Times, pemerintah Inggris akan mengambil langkah ini jika tingkat infeksi melonjak. Tidak hanya menutup kota London, pemerintah akan memperketat aturan karantina pada masuk ke Inggris
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 02 Agustus 2020  |  08:38 WIB
Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson bersiap memberikan keterangan di luar kantornya di 10 Downing Street di London, Inggris, Senin (27/4/2020). - Bloomberg/Simon Dawson
Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson bersiap memberikan keterangan di luar kantornya di 10 Downing Street di London, Inggris, Senin (27/4/2020). - Bloomberg/Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Boris Johnson tengah mempertimbangkan untuk menutup London Raya dan memerintahkan masyarakat dengan risiko tinggi untuk tetap tinggal di rumah.

Kebijakan ini akan menjadi lockdown kedua di Inggris. Menurut Sunday Times, pemerintah Inggris akan mengambil langkah ini jika tingkat infeksi melonjak.

Tidak hanya menutup kota London, pemerintah akan memperketat aturan karantina pada masuk ke Inggris, seperti dilansir The Sunday Telegraph.

Akan ada pembatasan perjalanan masuk dan keluar di jalan raya M25 yang mengelilingi London Raya dan larangan menginap satu malam bagi masyarakat di kota tersebut.

Orang lanjut usia dan mereka yang dianggap memiliki peningkatan risiko dari Covid-19 diminta untuk tinggal di rumah.

Laporan tersebut muncul kurang dari dua hari setelah pemerintah menunda rencana pelonggaran lockdown di tengah lonjakan infeksi.
Johnson membatalkan rencana untuk membuka kembali fasilitas rekreasi seperti arena bowling, dan membatalkan uji coba yang bertujuan untuk mendorong penggemar olahraga kembali menyaksikan pertandingan langsung di stadion.

Kurang dari sebulan yang lalu, Johnson membandingkan gagasan tentang lockdown nasional kedua sebagai alat yang mirip dengan "penangkal nuklir". Menurutnya, kebijakan tersebut adalah upaya terakhir yang akan diambil.

Inggris sendiri mencatat jumlah kematian tertinggi di Eropa dan pemerintah telah dituduh menunggu terlalu lama untuk memberlakukan lockdown pada bulan Maret, ketika kasus Covid-19 pertama muncul.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

london Virus Corona Lockdown

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top