Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konsumen Masih Waspada, China Kehilangan Momentum Pemulihan

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu kembali ke pertumbuhan pada kuartal kedua didorong hasil industri dan investasi. Sementara itu, pengeluaran konsumen belum kembali ke tingkat sebelum pandemi.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 Juli 2020  |  14:05 WIB
Foto udara kbongkar muat kontainer di Pelabuhan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen\n
Foto udara kbongkar muat kontainer di Pelabuhan Yangshan Deepwater, Shanghai, China, Senin (23/3/2020). Bloomberg - Qilai Shen\\n

Bisnis.com, JAKARTA - Pemulihan ekonomi China kehilangan beberapa momentum kenaikan pada Juli karena permintaan yang menurun ketika ekonomi riil meredam dampak dari sentimen pasar yang lebih kuat.

Indikator keseluruhan untuk ekonomi pada Juli tidak berubah dari bulan lalu, setelah membaik pada Mei dan Juni. Perhitungan indikator telah direvisi dari bulan ini untuk memasukkan metrik pembelian mobil, penjualan real estat dan sektor bangunan.

Ekonomi terbesar kedua di dunia itu kembali ke pertumbuhan pada kuartal kedua didorong hasil industri dan investasi. Sementara itu, pengeluaran konsumen belum kembali ke tingkat sebelum pandemi. Lonjakan kasus baru dan banjir Sungai Yangtze sejauh ini memiliki dampak ekonomi langsung yang kecil.

Perusahaan-perusahaan kecil tumbuh lebih percaya diri pada Juli, dengan indeks keseluruhan dalam survei Standard Chartered Plc naik ke level terkuat sejak Januari.

"Kekhawatiran sekarang adalah bahwa momentum pemulihan di sisi pasokan dapat terseret ke bawah jika permintaan gagal meningkat," tulis ekonom Bloomberg David Qu dalam sebuah laporan, dilansir Rabu (29/7/2020).

Dia melanjutkan, ketegangan AS dan China baru-baru ini juga berisiko menciptakan hambatan ekonomi yang selanjutnya dapat meredam pemulihan dalam jangka panjang.

Indeks manajer pembelian yang akan dirilis Jumat pekan ini diperkirakan tidak akan berubah dari angka Juni.

Sementara itu, Standard Chartered mengungkapkan ekspor untuk perusahaan yang lebih kecil melanjutkan kenaikan. Kondisi ini menjadi angin segar  bagi banyak perusahaan yang telah terpukul keras pertama kali oleh perang dagang dan kemudian oleh pandemi.

Penjualan mobil, yang merupakan bagian besar dari pengeluaran konsumen, membaik daripada Juni tetapi masih datar sepanjang bulan ini. Deflasi pabrik akan terus menekan keuntungan, bahkan jika harga turun di bawah angka Mei dan Juni.

Pemerintah telah memprioritaskan investasi infrastruktur sebagai salah satu pendorong utama pemulihan ekonomi dan meningkatkan pinjaman untuk membayar berbagai proyek.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china pemulihan ekonomi

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top