Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Restrukturisasi Utang Argentina, Kelompok Kreditur Gabungkan Kekuatan

Para kreditur yang mengklaim menjadi perwakilan dari 60 persen pemegang obligasi Argentina bersatu untuk mendesak Pemerintah Argentina menawarkan proposal baru. Di lain pihak Argentina menyebut sudah memberikan opsi terakhir kepada kreditur.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 28 Juli 2020  |  09:46 WIB
Presiden Argentina Alberto Fernandez. - Bloomberg
Presiden Argentina Alberto Fernandez. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Upaya restrukturisasi utang yang dilakukan oleh Argentina memasuki babak baru setelah sejumlah kelompok kreditur bergabung guna meningkatkan posisi tawar. Total utang yang direstrukturisasi mencapai US$65 miliar dan sejauh ini Argentina belum menemukan kesepakatan dengan para pemegang obligasi sejak gagak membayar kupon surat utang pada Mei 2020 lalu.

Dilansir dari Bloomberg pada Selasa (28/7/2020), sebanyak 30 kreditur mengirimkan surat kepada Menteri Perekonomian Argentina Martin Guzman. Surat tersebut berisi harapan agar negosiasi restrukturisasi tetap terus berjalan.

Surat tersebut ditandatangani sejumlah perusahaan investasi besar dunia seperti BlackRock Inc, VR Capital, Bluebay Asset Management, Fidelity Management & Research, Amundi Asset Management, GoldenTree Asset Management dan Welllington Management Company. 

Para kreditur tersebut juga merupakan anggota sejumlah kelompok pemegang obligasi Argentina seperti Ad Hoc Bondholder Group, Exchange Bondholder Group, dan Argentina Creditor Committee.

Dalam surat tersebut, para kreditur mengatakan telah merepresentasikan 60 persen dari keseluruhan pemegang obligasi. Kelompok terbaru ini juga telah mencakup 51 persen dari obligasi yang diterbitkan pemerintah Argentina pada 2016 lalu. 

Kolaborasi ini sekaligus meningkatkan daya tawar para kreditur setelah mereka menolak penawaran pemerintah Argentina. Di sisi lain, pemerintah Argentina juga menyatakan penawaran yang telah dilayangkan merupakan yang terakhir. 

Meski demikian, pemerintah Argentina tidak menutup kemungkinan terjadinya penyesuaian dari sisi hukum. Adapun pemerintah menetapkan tenggat waktu jawaban dari para kreditur hingga 4 Agustus mendatang.

Berdasarkan laporan yang disampaikan ke Securities and Exchange Commission, Argentina memerlukan tingkat partisipasi 66,6 persen dari keseluruhan obligasi. Pemerintah juga menyatakan sebuah penawaran dari kreditur valid bila tingkat partisipasi dari pemegang obligasi dengan emisi tahun 2005 atau 2016 mencapai 60 persen.

Sebelumnya, Argentina sudah menawarkan proposal baru yang mana pemegang obligasi akan mendapatkan US$13 miliar lebih banyak bila dibandingkan proposal pada April lalu. Pemerintah Argentina juga menolak memberikan insentif kepada para pemegang obligasi.

Selain itu, Argentina juga enggan membayarkan bunga kepada pemegang obligasi secara tunai. Mereka menawarkan untuk membayarkan bunga tersebut melalui penerbitan obligasi baru yang akan jatuh tempo pada 2030.

“Saat ini, Argentina memiliki batasan yang sangat ketat. Kami tidak memiliki kemampuan untuk membayar apapun,” ujar de Guzman.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

argentina
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top