Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Sebabnya Orang Lebih Takut Virus Corona Dibanding Tuberkulosis

Covid-19 malah jadi ‘blessing in disguise’ atau membawa keberuntungan, karena dengan melaksanakan protokol kesehatan Covid-19 bisa menghindari penyakit TBC.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 23 Juli 2020  |  18:31 WIB
Tuberkulosis atau TBC terdiri dari TBC paru dan TBC ekstra paru. JIBI - Bisnis/Nancy Junita @tbc.indonesia
Tuberkulosis atau TBC terdiri dari TBC paru dan TBC ekstra paru. JIBI - Bisnis/Nancy Junita @tbc.indonesia

Bisnis.com, JAKARTA – Tuberkulosis (TBC) sudah menjadi ‘musuh lama’ di dunia, jauh sebelum ada Virus Corona penyebab pandemic Covid-19 saat ini. Indonesia menjadi peringkat ketiga terbanyak kasus TBC atau TB di dunia setelah India, dan China.

Tapi, kenapa orang Indonesia lebih takut dengan Virus Corona, padahal sejam13 orang meninggal karena TB di Indonesia?

Dokter Wahyuni Indawati SpA(K), anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan bahwa orang takut dengan Covid-19, karena melihat angka-angka penularan yang cepat dan cukup tinggi. Padahal, TBC juga demikian, hanya saja angkanya tak bergerak secepat Covid-19.

“Masyarakat baru tahu ada penyakit menular seperti Covid-19 dan baru melaksanakan protokol kesehatan. Penularan penyakit melalui droplet bukan hanya Covid-19 saja, tapi juga TBC,” ujar Wahyuni, Kamis (23/7/2020).

Menurutnya, adanya Covid-19 malah jadi ‘blessing in disguise’ atau membawa keberuntungan, karena dengan melaksanakan protokol kesehatan Covid-19 bisa menghindari penyakit TBC.

Dengan Covid-19, banyak peraturan yang diberlakukan, seperti isolasi mandiri di rumah, memakai masker, memjaga jarak, etika batuk, dan rumah memiliki ventilasi.

Dengan demikian, pencegahan penularan Virus Corona juga sekaligus mencegah penularan TBC.

Penularan TBC juga terjadi di antara orang dekat, demikian juga dengan penularan Virus Corona.

 “Kalau semua sehattak masalah, tapi kalau di rumah ada yang sakit TBC aktif, itu kita harus waspada, harus lakukan deteksi dini, kenali gejala apa saja yang bisa dikategorikan TB,” jelasnya.

Adapun gejala TBC antara lain bukan hanya batuk biasa, tapi batuk lebih dari 3 minggu dan sudah berobat tidak membaik.

“Kalau terbukti ada yang TBC, kita harus memeriksa orang yang tinggal serumah termasuk anak-anak. Karena banyak yang merasa anak-anaknya sehat-sehat saja. Padahal, mereka ini rentan, mudah terkena penyakit TBC dan mudah progresif jadi TB yang berat,” imbuhnya.

Kemudian, apabila ternyata memang tidak ditemukan tanda sakit TB harus diberikan pengobatan pencegahan terutama untuk anak di bawah 5 tahun, atau anak yang punya penyakit yang berpotensi menurunkan imun.

Dengan perkembangan ilmu kedokteran dan teknologi diupayakan agar obat yang diberikan bisa dikonsumsi dalam jangka waktu yang lebih pendek, supaya tidak terlalu lama dan membuat orang berhenti mengonsumsi obat.

Adapun pengobatan TBC berlangsung selama 6 bulan.

“Ini tantangan tersendiri, sebagai tenaga kesehatan harus bisa memberikan pemahaman agar penderita TBC tidak putus obat,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona tuberkulosis covid-19
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top