Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Dana Hibah KONI, Asisten Imam Nahrawi Divonis 4 Tahun Penjara

Miftahul Ulum, Asisten mantan Menpora Imam Nahrawi divonis 4 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi atas kasus korupsi dana hibah KONI.
Setyo Aji Harjanto
Setyo Aji Harjanto - Bisnis.com 15 Juni 2020  |  21:00 WIB
Asisten Pribadi Menpora Miftahul Ulum (kiri) meninggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Kamis (3/1/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay
Asisten Pribadi Menpora Miftahul Ulum (kiri) meninggalkan gedung KPK usai menjalani pemeriksaan di Jakarta, Kamis (3/1/2019). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA - Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi menjatuhkan vonis 4 tahun penjara terhadap terdakwa Miftahul Ulum yang merupakan Asisten mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi itu juga divonis dengan hukuman denda sebesar Rp200 juta subsider 3 bulan kurungan.

"Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa Miftahul Ulum berupa pidana penjara selama 4 tahun dan pidana denda sebesar Rp200 juta bila denda tidak dibayar diganti pidana kurungan selama 3 bulan," kata Hakim Ketua, Ni Made Sudani saat membacakan amar putusan terdakwa Miftahul Ulum, Senin (15/6/2020) malam.

Majelis hakim menyatakan, Ulum terbukti bersalah menerima suap Rp11,5 miliar bersama-sama dengan Imam Nahrawi. Uang ini diberikan dengan tujuan mempercepat proses persetujuan dan pencairan bantuan dana hibah yang diajukan oleh KONI Pusat kepada Kemenpora tahun anggaran 2018.

Majelis hakim juga meyakini Ulum terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah menerima gratifikasi sebesar Rp7,65 miliar bersama-sama dengan Imam Nahrawi. Ulum berperan sebagai perantara uang yang diterima dari berbagai sumber untuk Imam Nahrawi.

Majelis Hakim mempertimbangkan sejumlah hal dalam menjatuhkan putusan. Adapun, hal yang memberatkan, perbuatan terdakwa dinilai tidak mendukung pemerintah dalam pemberantasan korupsi.

"Hal meringankan, terdakwa sopan di persidangan, belum pernah dihukum, memiliki tanggungan keluarga, merasa salah, menyesali perbuatan dan berjanji tidak melakukan perbuatan, uang hasil terdakwa sebagian besar dinikmati orang lain dan sebagian kecil yang dinikmati terdakwa, terdakwa juga sudah meminta maaf," tutur hakim.

Menurut majelis hakim, perbuatan Ulum tersebut terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 12 ayat (1) huruf a jo pasal 18 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 64 ayat (1) KUHP dan Pasal 12 B jo pasal 18 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP jo pasal 65 ayat (1) KUHP.

"Mengadili, menyatakan terdakwa Miftahul Ulum Pulungan terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan beberapa tindak pidana korupsi secara bersama-sama dan berlanjut," kata hakim.

Vonis itu lebih rendah dari tuntutan Jaksa Komisi Pemberantasan Korupdi (KPK). Sebelumnya Ulum dituntut 9 tahun penjara dan denda Rp300 juta subsider 6 bulan kurungan.

Atas vonis tersebut, Ulum menyatakan menerima. Sementara Jaksa KPK menyatakan banding.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

KPK korupsi kemenpora
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top