Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kasus Floyd: Mantan Menhan Ajak Warga AS Bersatu Tanpa Trump

Presiden AS Donald Trump mendapat kritik keras karena melibatkan militer dalam mengatasi aksi demonstrasi terkait kematian George Floyd.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 04 Juni 2020  |  10:31 WIB
Mantan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menyerukan semua rakyat amerika bersatu. Namun, persatuan yang diserukan Mattis adalah persatuan tanpa Trump. - Reuters/Ilustrasi
Mantan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menyerukan semua rakyat amerika bersatu. Namun, persatuan yang diserukan Mattis adalah persatuan tanpa Trump. - Reuters/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Mantan Menteri Pertahanan AS Jim Mattis menyerukan semua rakyat amerika bersatu. Namun, persatuan yang diserukan Mattis adalah persatuan tanpa Trump.

Seruan Mattis itu terkait dengan kritik dia atas cara Presiden Trump menangani aksi unjuk rasa atas kematian George Floyd dengan melibatkan militer.

Mattis meminta warga AS untuk “bersatu tanpa Trump" dengan memanfaatkan kekuatan yang melekat dalam masyarakat sipil.

“Ini tidak akan mudah, seperti yang ditunjukkan beberapa hari terakhir, tetapi kami berutang kepada sesama warga negara kami; untuk generasi masa lalu yang berdarah untuk mempertahankan janji kita; dan untuk anak-anak kita,” ujar Mattis.

Mattis juga mengatakan bahwa para pengunjuk rasa menuntut agar negara itu mengikuti kata-kata "Equal Justice Under Law" yang dipajang di Mahkamah Agung AS.

“Aksi protes menunjukkan bahwa kita menghayati nilai-nilai kita sebagai manusia dan nilai-nilai kita sebagai bangsa,” kata Mattis.

Mattis merujuk pada penggunaan kekerasan untuk membubarkan pengunjuk rasa sehingga Trump dapat mengunjungi Gereja St John sehari setelah aksi protes berlangsung di dekat Gedung Putih.

“Kami tahu bahwa kami lebih baik daripada penyalahgunaan otoritas eksekutif yang kami saksikan di Lafayette Square. Kita harus menolak dan meminta pertanggungjawaban orang-orang yang akan mengejek konstitusi kita,” kata Mattis.

Mattis mengecam penggunaan kekuatan militer oleh Presiden Donald Trump untuk menindak pelaku aksi protes dan mengatakan mantan bosnya itu sedang membuat "konflik palsu" antara militer dan masyarakat sipil.

"Saya telah menyaksikan peristiwa yang sedang berlangsung minggu ini. Saya marah dan terkejut," tulis Mattis.

Mattis mengundurkan diri sebagai menteri pertahanan pada Desember 2018 untuk memprotes kebijakan Trump di Suriah. Dia selama ini menolak untuk berbicara menentang Trump. Namun, ujar Mattis, dirinya tak bisa bungkam kepada publik selagi mantan bosnya tetap menjabat.

“Donald Trump adalah presiden pertama dalam hidup saya yang tidak mencoba menyatukan rakyat Amerika, bahkan berpura-pura mencoba pun tidak. Sebaliknya dia mencoba memecah belah kita,” tulis Mattis dalam sebuah pernyataan seperti dikutip Aljazeera.com, Kamis (4/6/2020).

Mattis mengaku menyaksikan konsekuensi dari tiga tahun upaya yang disengaja tersebut dan melihat konsekuensi tiga tahun tanpa kepemimpinan yang matang.

Sementara itu, seperti dikutip Tempo.co dari Reuters, Trump menanggapi kritik Mattis dengan tak kalah sengitnya.

Trump mengatakan bahwa ia tidak menyukai gaya kepemimpinan Mattis saat masih menjadi Menteri Pertahanan Amerika.

Trump bahkan mengatakan jasa Mattis terlalu dibesar-besarkan. Mattis, yang merupakan veteran Marinir, kerap dianggap sebagai salah satu figur militer yang dihormati.  "Saya lega dia sudah tidak ada [di kabinet]," ujar Trump.

Kritik Mattis menjadi kejutan bagi figur-figur militer di Pemerintahan Trump. Sejak keluar dari kabinet atas perbedaan pendapat, Mattis kerap menolak untuk berkomentar apa pun soal kepemimpinan Trump.

Sebelum Mattis, kritik serupa juga datang dari Admiral Angkatan Laut Mike Mullen dan veteran Militer Angkatan Darat Martin Dempsey. Keduanya adalah mantan panglima Militer Amerika.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

amerika serikat Donald Trump George Floyd

Sumber : Aljazeera.com

Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top