Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Donald Trump Tak Terima Twitter Pasang Tanda Cek Fakta pada Cuitannya

Platform media sosial Twitter memasang tanda cek fakta pada cuitan Donald Trump
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 27 Mei 2020  |  08:48 WIB
President Donald Trump saat berkunjung ke Honeywell International Inc. produsen masker N95 di Phoenix pada 5 Mei 2020. - Bloomberg/Brendan
President Donald Trump saat berkunjung ke Honeywell International Inc. produsen masker N95 di Phoenix pada 5 Mei 2020. - Bloomberg/Brendan

Bisnis.com, JAKARTA— Presiden AS Donald Trump tak terima Twitter Inc. memasang tanda cek fakta pada cuitannya.

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (27/5/2020), pemasangan tanda tersebut dilakukan sebagai respons kritik terhadap platform tersebut terkait dengan penyebaran misinformasi.

Adapun, tanda cek fakta pada cuitan Presiden AS Donald Trump itu memberikan tautan tambahan terkait informasi yang disampaikan. Saat diakses, pengguna terhubung dengan artikel yang memberikan informasi lanjutannya.

Twitter menyematkan tautan tambahan dengan tanda seru berwarna biru pada cuitan Trump yang berisi tentang teknis pemilu di AS.

Namun, langkah Twitter direspons negatif oleh Trump. Dia menilai Twitter menghambat kebebasannya berbicara. Dia pun menilai Twitter menghambat pemilu dengan memberikan peringatan cek fakta pada pernyataannya yang lebih sahih ketimbang tautan artikel yang tak lebih baik dari cuitannya.

cuitan Trumpc

Hingga pukul 08.27 WIB, cuitan kekesalan Trump terhadap langkah Twitter telah dicuitkan ulang secara total 54.000 kali dan disukai 168.000 kali.

Kekesalan Trump pun didukung oleh Manajer Kampanye Brad Parscale. Dia menyebut kerja sama dengan menyediakan fitur cek fakta yang bias menambah buruknya kredibilitas Twitter.

“Banyak alasan yang membuat kami menarik iklan kami dari Twitter beberapa bulan lalu dan bias politik secara jelas adalah salah satu dari alasan itu,” katanya melalui akun Twitter resminya.

BBC menyebut kendati langkah Twitter memberi tanda cek fakta untuk mengurangi penyebaran berita palsu, Twitter enggan menghapus cuitan yang mengandung kebohongan. Sebelumnya, klaim palsu pernah diungkap Trump terkait dengan konspirasi kematian salah satu dewan perwakilan partai republik.

Konspirasi lantas berujung pada permintaan agar cuitan itu dihapus. Namun, Twitter hanya merespons dengan ucapan belasungkawa tanpa menghapus cuitan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

twitter Donald Trump

Sumber : Bloomberg, BBC

Editor : Duwi Setiya Ariyanti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top