Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Deflasi Bahan Pangan, Jokowi: Daya Beli Masyarakat Turun

Presiden Jokowi berharap penyaluran bantuan sosial bisa meningkatkan daya beli masyarakat.
Muhammad Khadafi
Muhammad Khadafi - Bisnis.com 13 Mei 2020  |  11:12 WIB
Presiden Jokowi saat memberikan keterangan resmi melalui unggahan video di akun Sekretariat Presiden mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Kamis (7/5/2020). - Biro Pers Media Istana
Presiden Jokowi saat memberikan keterangan resmi melalui unggahan video di akun Sekretariat Presiden mengenai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Kamis (7/5/2020). - Biro Pers Media Istana

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), pada April 2020 terjadi deflasi bahan pangan sebesar 0,13 persen. Hal ini menjadi indikasi penurunan daya beli masyarakat pada periode tersebut.

“Ini ada indikasi penurunan permintaan bahan pangan dan artinya daya beli masyarakat menurun,” kata Jokowi saat membuka rapat terbatas lanjutan antisipasi kebutuhan bahan pokok melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Rabu (13/5/2020).

Oleh sebab itu, lanjut Jokowi, pemerintah telah meluncurkan berbagai program jaring pengaman sosial, mulai dari bantuan sosial tunai (BST) untuk 9 juta keluarga, BLT desa dari Dana Desa untuk 11 juta keluarga, hingga padat karya tunai.

"Kita harapkan ini [Bansos] dapat meningkatkan daya beli masyarakat," kata Jokowi.

Mengutip data BPS, komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada April 2020 yaitu cabai merah sebesar 0,08 persen, daging ayam ras sebesar 0,05 persen, dan bawang putih sebesar 0,02 persen. Selain itu, ikan segar, telur ayam ras, dan bawang bombay masing-masing sebesar 0,01 persen.

Adapun sebelumnya, kata Jokowi, di tengah situasi pandemi, bansos bukan hanya untuk membantu masyarakat. Pasalnya dia mencatat pengeluaran pemerintah menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2020. Hal ini diikuiti dengan perlambatan konsumsi rumah tangga dan koreksi negatif pada lembaga non-profit yang melayani rumah tangga (LNPRT).

Oleh karena itu percepatan penyaluran bansos menjadi kunci. Hal ini akan menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Rabu (13/5/2020) pagi tadi, Presiden meninjau penyerahan bantuan sosial (bansos) tunai di Kantor Pos kota Bogor, Jawa Barat. Jokowi hendak memastikan pembagian bantuan pemerintah kepada masyarakat yang terdampak Covid-19 berlangsung efisien dan sesuai dengan protokol kesehatan.

Jokowi menjelaskan bahwa bansos yang telah diberikan kepada masyarakat yang terdampak Covid-19 sangat banyak.

"Kita harap bisa menjangkau kurang lebih 55 persen dari penduduk kita, baik itu yang kurang mampu maupun terkena dampak pandemi Covid-19," tambahnya.

Jokowi mengatakan bahwa pada tahap pertama ini penyaluran Bansos memang belum 100 persen rampung. Di beberapa tempat lain, BLT desa baru dirasakan sekitar 10 persen oleh masyarakat.

"Mohon masyarakat masih menunggu, menanyakan kepada aparat desa, baik RT atau RW," ujar Jokowi.

Selanjutnya, pemerintah akan terus memperbaiki proses penyaluran bansos, utamanya terkait dengan pendataan warga penerima. Presiden berharap pada tahap kedua penyaluran bansos hal-hal tersebut tidak lagi menjadi masalah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jokowi bansos Virus Corona
Editor : Fitri Sartina Dewi
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top