Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Inggris Tak Akan Longgarkan Lockdown Hingga Pertengahan Mei

Tidak hanya memperpanjang lockdown, Inggris juga akan terus mengencarkan tes dan pelacakan kontak melalui aplikasi ponsel.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 29 April 2020  |  11:31 WIB
Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson
Suasana sepi di Tower Bridge di London, Inggris, Kamis (9/4/2020). Saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson berada di unit perawatan kritis karena Covid-19, sejumlah pejabat menyusun rencana untuk memperpanjang masa lock down untuk mengendalikan krisis karena virus corona. Bloomberg - Simon Dawson

Bisnis.com, JAKARTA - Sekretaris Kesehatan Inggris Matt Hancock mengatakan pemerintah kemungkinan akan terus melanjutkan kebijakan lockdown paling tidak hingga pertengahan Mei 2020.

Pasalnya, pemerintah mengatakan sistem tes dan pelacakan sebagai cara untuk memastikan infeksi virus Corona kembali naik ketika lockdown dilonggarkan. Untuk itu, diperlukan rekrutmen 18.000 pelacakan kontak untuk mengidentifikasi orang-orang yang mungkin terpapar virus dengan melibatkan aplikasi ponsel.

"Kami berharap aplikasi itu siap pada pertengahan Mei dan akan membantu kami mengindentifikasi kasus-kasus baru," kata Hancock, dilansir Bloomberg, Rabu (29/4/2020).

Pemerintah Boris Johnson berada di bawah tekanan dari bisnis dan anggota Parlemen Partai Konservatifnya sendiri untuk mulai membuka ekonomi Inggris.

Para pihak itu memperingatkan kerugian berkepanjangan jika pemerintah menunggu terlalu lama. Namun, Johnson mengkhawatirkan bencana ekonomi jika virus itu meledak lagi setelah orang-orang mulai berkegiatan.

Sementara itu Prancis akan mulai mencabut pembatasan pada awal Mei sedangkan Spanyol menetapkan masa delapan minggu untuk beralih ke situasi normal yang baru.

Pemerintah Inggris telah mengumumkan langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mendukung bisnis dan membayar pekerja agar tetap tinggal di rumah. Hal itu dengan tujuan memungkinkan ekonomi untuk dibuka kembali dengan kerugian seminimal mungkin. Namun, upaya itu belum juga cukup.

Selasa malam, IAG SA mengatakan akan memangkas tenaga kerja di perusahaan penerbangan British Airways hampir 30 persen atau sekitar 12.000 karyawan.

Hancock mengatakan perangkat dan kebijakan untuk kembali ke kehidupan normal adalah aplikasi, pelacakan kontak, dan kapasitas pengujian yang memadai. Dia mengatakan Inggris menargetkan 100.000 tes sehari pada akhir April.

Dokumen-dokumen pemodelan pemerintah yang diterbitkan pada Maret lalu mengasumsikan langkah-langkah karantina kemungkinan berlangsung selama 13 minggu. Sementara saat ini Inggris telah menjalani 5 minggu karantina. Akhir Juni nanti, Inggris baru akan mencapai 13 minggu karantina.

Namun, para menteri khawatir terlalu banyak orang tinggal di rumah selama karantina saat ini. Hancock mengumumkan bahwa siapa pun dengan anggota keluarga yang pekerjaannya mengharuskan mereka meninggalkan rumah, akan memenuhi syarat untuk pengujian virus jika mereka mengalami gejala.

Hal itu merupakan tanda bahwa pemerintah memang mengharapkan orang-orang yang bukan pekerja sektor kunci untuk terus bekerja jika dimungkinkan. Mengizinkan para pekerja itu mengakses tes dapat membantu hal itu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

inggris Virus Corona
Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top