Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ventilator Penyebab Kematian Pasien Covid-19? Begini Penjelasan Dokter

Logikanya, kata dia, ketika pasien sudah dibantu secara maksimal dengan alat bantu ventilator mekanik yang dimasukkan dengan intubasi terntu pasien berada dalam kondisi berat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 14 April 2020  |  15:47 WIB
Ventilator Penyebab Kematian Pasien Covid-19? Begini Penjelasan Dokter
Vent-I (Ventilator Indonesia). - Humas ITB

Bisnis.com, JAKARTA -  Dokter spesialis paru dr Andika Chandra Putra menerangkan bahwa isu naiknya angka kematian Covid-19 setelah pasien menggunakan ventilator mekanik terjadi karena hanya pasien yang berada dalam tahapan kritis atau dalam kondisi berat yang seharusnya menggunakan alat bantu pernapasan tersebut.

"Kalau kebutuhannya sudah maksimal artinya pasien sudah tidak bisa bernapas secara spontan lagi, harus dibantu dengan mesin, akan dibantu memakai ventilator dengan dilakukan intubasi," kata dokter paru yang berpraktik di RS St. Carolus itu ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (14/4/2020).

Logikanya, kata dia, ketika pasien sudah dibantu secara maksimal dengan alat bantu ventilator mekanik yang dimasukkan dengan intubasi terntu pasien berada dalam kondisi berat.

Intubasi endotrakeal sendiri adalah tindakan medis memasukkan tabung endotrakeal melalui mulut atau hidung untuk menghubungkan udara luar dengan paru.

Karena kondisi itu, kemungkinan sembuh pasien yang menggunakan ventilator mekanik lebih kecil dibandingkan dengan yang tidak menggunakan atau hanya membutuhkan nassal cannula atau selang bantu pernapasan.

"Bukan pemasangan ventilator yang membuat pasien meninggal, tapi kondisinya yang menyebabkan meninggal. Karena kita melakukan pemberian bantuan oksigen disesuaikan dengan kondisi pasien. Kalau diberikan ventilator berarti kondisinya sudah berat ," tegas Ketua Bidang Ilmiah dan Penelitian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) tersebut.

Menurut beberapa pengalaman dan statistik, kata Andika, memang pasien Covid-19 yang kondisinya berat dan harus menggunakan ventilator itu memiliki angka keberhasilan tidak begitu tinggi.

Berhasil adalah ketika pasien sudah tidak membutuhkan bantuan ventilator lagi untuk bernapas atau bisa dilakukan proses pengurangan bantuan mesin itu untuk bernapas secara perlahan.

Tanpa Covid-19 pun, tegasnya, ventilator sudah memiliki risiko karena proses intubasi berarti memasukkan benda asing ke dalam tubuh akan menyebabkan munculnya risiko infeksi.


 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Ventilator

Sumber : Antara

Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top