Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pemimpin Dunia Diimbau Bersatu Perangi Corona, Tinggalkan Ego Nasionalisme

Para pemimpin dunia harus "meredam, bukan mengobarkan, nasionalisme penduduk pribumi" dalam meraih kemenangan kolektif atas pandemi Virus Corona atau Covid-19 yang telah menjangkiti lebih dari 1,4 juta orang dengan sekitar 80.000 kematian di dunia per Selasa (7/4), demikian menurut sejumlah pakar.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 09 April 2020  |  12:05 WIB
Robert Lawrence Kuhn, pakar tentang China asal AS yang juga merupakan Ketua Kuhn Foundation, berbicara dalam sesi wawancara dengan Xinhua di Los Angeles, AS, pada 15 Oktober 2019. Foto: Antara - Xinhua/Gao Shan)
Robert Lawrence Kuhn, pakar tentang China asal AS yang juga merupakan Ketua Kuhn Foundation, berbicara dalam sesi wawancara dengan Xinhua di Los Angeles, AS, pada 15 Oktober 2019. Foto: Antara - Xinhua/Gao Shan)

Bisnis.com, JAKARTA - Para pemimpin dunia harus "meredam, bukan mengobarkan, nasionalisme penduduk pribumi" dalam meraih kemenangan kolektif atas pandemi Virus Corona atau Covid-19 yang telah menjangkiti lebih dari 1,4 juta orang dengan sekitar 80.000 kematian di dunia per Selasa (7/4), demikian menurut sejumlah pakar.

"Satu-satunya cara untuk mengakhiri pandemi adalah dengan melakukannya secara kolektif. Siapa pun di dunia akan aman hanya jika semua orang juga aman," kata Robert Lawrence Kuhn, Ketua Kuhn Foundation, kepada Xinhua dalam sesi wawancara baru-baru ini, seperti dipublikasikan Antara, Kamis (9/4/2020).

"Pemimpin yang berwawasan harus meredam, bukan mengobarkan, nasionalisme penduduk pribumi. Kita tidak dapat membiarkan kelelahan yang dirasakan bersama menjadi harapan terakhir kita," ujar Kuhn.

"Pandemi dan nasionalisme menghasilkan perpaduan yang berbahaya, dan jika kita tidak berhati-hati, itulah yang akan kita dapatkan," lanjutnya.

Kuhn mengingatkan tidak butuh kepintaran untuk memancing emosi dengan kemampuan retorika yang lincah atau penghinaan politis. "Orang-orang yang rasional harus bekerja sama, tidak membiarkan cercaan yang dilontarkan mengikis kapasitas untuk memerangi musuh bersama," paparnya.

Sementara itu, Henry A. Kissinger, mantan menteri luar negeri dan penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) pada era pemerintahan Nixon dan Ford, mengingatkan potensi terjadinya pecah belah masyarakat ketika menghadapi pandemi Corona.

"Para pemimpin menghadapi krisis dengan basis yang sebagian besar berskala nasional, tetapi efek memecah belah masyarakat dari virus tersebut tidak mengenal batasan," tuturnya, dalam ulasan yang dilakukan oleh surat kabar Wall Street Journal  edisi 3 April.

"Tidak ada negara, bahkan AS, yang mampu menghadapi virus itu hanya dengan melakukan upaya berskala nasional. Memenuhi kebutuhan saat ini pada akhirnya harus dipadukan dengan visi dan program kolaboratif berskala global. Jika kita tidak dapat melakukannya secara bersamaan, kita akan menghadapi sisi terburuk dari keduanya," kata Kissinger dalam artikel bertajuk The Coronavirus Pandemic Will Forever Alter the World Order.

Kuhn mengingatkan bahwa pengendalian diri dibutuhkan di semua sisi, baik politik dalam negeri maupun diplomasi internasional. Prioritas harus ditentukan. "Pengendalian polemik akan menjadi lebih menantang dibandingkan pengendalian coronavirus," sebut Kuhn.

Musuh Bersama

"Ungkapan lama mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk menyatukan dunia yang penuh amarah, keras kepala, dan terpecah akibat segala macam konflik ini adalah dengan kehadiran satu musuh bersama yang membawa ancaman bagi semua orang, yaitu invasi alien dari luar angkasa," kata Kuhn.

"Itulah yang kita alami dengan coronavirus baru saat ini, yang berbeda hanya bahwa musuh bersama itu datang dari dalam Bumi," imbuhnya.

"Persamaan antara invasi alien dan virus yang sangat menular begitu mencolok, yaitu keduanya sama sekali tidak peduli soal perbedaan yang diciptakan oleh manusia di antara mereka sendiri, yang terus mengganggu dan menghancurkan kita, (yakni) nasionalisme, etnis, ras, agama, dan sistem politik," ujar Kuhn.

"Kita beralih dari Pertempuran Bulge ke dunia dengan kemakmuran yang terus berkembang dan martabat yang semakin tinggi. Saat ini, kita hidup di sebuah periode bersejarah. Tantangan historis bagi para pemimpin adalah untuk menangani krisis ini sembari membangun masa depan. Kegagalan dapat menghancurkan dunia," tutur Kissinger.

Konferensi tingkat tinggi (KTT) khusus via video yang digelar oleh para pemimpin G20 baru-baru ini mengirimkan pesan kerja sama dan solidaritas serta menyuntikkan kepercayaan diri ke dalam perjuangan antivirus global, kata Zhiqun Zhu, profesor bidang ilmu politik dan hubungan internasional dari Universitas Bucknell di Negara Bagian Pennsylvania, AS, kepada Xinhua.

"Saya pikir para pemimpin disatukan dalam krisis ini, sebagaimana dibuktikan dalam pernyataan gabungan menyusul penyelenggaraan konferensi video itu," ujar Zhu.

Para pemimpin G20 berjanji akan "melakukan segala upaya demi mengatasi pandemi" dan menyuntikkan anggaran fiskal sebesar 5 triliun dolar AS (1 dolar AS = Rp16.245) ke dalam perekonomian global guna meredam dampak ekonomi dari Covid-19.

Mereka juga sepakat membantu negara-negara berkembang dan tertinggal dengan sistem kesehatan yang lemah dalam menghadapi tantangan ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona covid-19

Sumber : Xinhua/Antara

Editor : Sutarno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top