Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Brexit Terancam Tertunda untuk Kesekian Kalinya

Sejauh ini, PM Johnson mengatakan bahwa Brexit akan terjadi akhir tahun ini. Namun sejumlah kalangan ragu dengan hal itu, mengingat semua tenaga, waktu dan segalanya telah habis mengurus wabah virus Corona.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 02 April 2020  |  18:42 WIB
Aksi protes anti-Brexit menggelar unjuk rasa di luar Gedung Parlemen di London, Inggris (30/1 - 2020). Reuters
Aksi protes anti-Brexit menggelar unjuk rasa di luar Gedung Parlemen di London, Inggris (30/1 - 2020). Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, berjanji bahwa dia tidak akan menunda perpisahaan Inggris dengan Uni Eropa pada akhir tahun ini.

Namun, kenyataan di kantor pemerintahan Inggris, atau Whitehall yang kosong, berkata lain. Pelobi bisnis mengatakan pejabat pemerintah telah membatalkan sebagian besar pertemuan untuk mempersiapkan Brexit karena pegawai negeri sipil ditarik untuk menangani pandemi virus corona yang terus meningkat.

"Tidak ada kepentingan yang lebih mendesak dari Covid-19 untuk saat ini. Tidak ada cukup waktu, energi, uang atau fokus untuk Brexit dalam situasi ini," ujar Pauline Bastidon, Kepala Kebijakan Eropa di Freight Transport Association, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (2/4/2020).

Meski demikian, Johnson tidak mengajukan perpanjangan waktu untuk bernegosiasi dan mempersiapkan hubungan masa depan dengan Uni Eropa.

Pelaku bisnis yang terombang-ambing khawatir bahwa itu artinya mereka akan dihadapi dengan guncangan ekonomi kedua pada akhir 2020, ketika periode transisi 11 bulan pasca-Brexit berakhir.

Pelobi mengatakan mereka mengantisipasi Johnson akan membuat keputusan tentang perpanjangan sekitar bulan Juni, batas waktu dalam undang-undang untuk menyetujui penundaan Brexit dengan Uni Eropa.

Kemudian mereka berharap Johnson akan mencari waktu yang terbatas untuk mengejar ketertinggalan selama pemerintah menangani penyebaran virus Corona.

"Semua orang mengharapkan perpanjangan," kata Helen Brocklebank, CEO Walpole, yang mewakili sektor barang mewah Inggris. "Brexit menjadi tidak penting ketika perusahaan berjuang untuk bertahan hidup."

Inggris bertujuan untuk mencapai perjanjian perdagangan bebas terbatas dengan Uni Eropa, seperti kesepakatan blok dengan Kanada, yang akan mengurangi tarif barang tetapi menciptakan hambatan non-tarif baru yang mahal seperti dokumen bea cukai tambahan dan birokrasi.

Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, kedua belah pihak akan berdagang dengan syarat Organisasi Perdagangan Dunia, yang akan memberikan tarif mahal untuk produk-produk seperti mobil, daging, dan susu.

Kekhawatiran bagi Inggris dan Uni Eropa adalah perusahaan-perusahaan di kedua sisi perbatasan tidak memiliki cukup persiapan untuk mengakhiri perdagangan tanpa gesekan antarblok, yang mengarah ke masalah seperti antrian di perbatasan dan gangguan rantai pasokan.

Uni Eropa adalah mitra dagang individu terbesar di Inggris, dengan porsi sekitar setengah dari ekspornya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona Brexit
Editor : Andya Dhyaksa
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top