Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penerima Nobel Ini Prediksi Badai Virus Corona Akan Segera Berlalu

Dia mulai menganalisis jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia pada Januari dan dengan tepat menghitung bahwa China akan melalui pandemi terburuknya lebih cepat dari perkiraan banyak pakar lainnya.
Syaiful Millah
Syaiful Millah - Bisnis.com 27 Maret 2020  |  11:06 WIB
Michael Levitt - istimewa
Michael Levitt - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Micheal Levitt, pemenang hadiah Nobel dan ahli biofisika Stanford menyatakan bahwa wabah pandemi virus corona baru atau COVID-19 yang melanda seluruh negara di dunia bakal lekas mereda dan pemulihannya terjadi lebih cepat.

Sebelumnya, pernyataan Levitt tentang pemulihan virus corona yang cepat telah terbukti pada kasus di China. Dia mulai menganalisis jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia pada Januari dan dengan tepat menghitung bahwa China akan melalui pandemi terburuknya lebih cepat dari perkiraan banyak pakar lainnya.

Kini, dia memperkirakan hasil yang sama untuk kasus virus corona di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Sementara banyak pakar dan ahli epidemiologi memperingatkan lamanya wabah ini akan bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun, Levitt menyatakan tidak demikian.

“Yang kita butuhkan adalah mengendalikan kepanikan. Dalam skema besar, kita akan baik-baik saja,” katanya seperti dikutip dari Los Angeles Times, Jumat (27/3).

Pada kasus di China, Levitt mengungkapkan per akhir Januari lalu negara tirai bambu ini memiliki 46 kematian baru karena virus corona, dibandingkan dengan 42 kematian baru sehari sebelumnya. Kendati jumlahnya meningkat, tapi tingkatan itu menurutnya mulai mereda.

Dalam pandangannya, fakta bahwa kasus-kasus baru sedang diidentifikasi pada tingkat yang lebih lambat daripada jumlah kasus baru itu sendiri, merupakan tanda awal bahwa lintasan wabah mulai bergeser dan mengalami pelambatan.

Dia menganalogikan hal ini dengan mobil yang melaju di jalan raya. Meskipun mobil masih terus menambah kecepatan, tapi itu tidak mempercepat mobil secepat sebelumnya, “Ini menunjukkan bahwa tingkat peningkatan jumlah kematian akan melambat,” ujarnya.

Tiga minggu setelahnya, Levitt mengatakan kepada China Daily News bahwa tingkat pertumbuhan virus telah memuncak. Dia memperkirakan bahwa jumlah kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di China akan mencapai sekitar 80.000 kasus dengan tingkat kematian sebanya 3.250 kasus.

Pernyataan tersebut nyatanya cukup akurat. Pada 16 Maret, China telah menghitung total kasus yang terjadi sebanyak 80.298 kasus dengan 3.245 kasus kematian. Jumlah pasien baru didiagnosis turun drastis hanya sekitar 25 kasus baru per hari.

Levitt yang menerima hadiah Nobel pada 2013 lalu, saat ini melihat titik balik yang serupa di negara-negara lainnya. Dia menganalisis data dari 78 negara yang melaporkan lebih dari 50 kasus positif COVID-19 setiap harinya dan melihat tanda-tanda pemulihan di banyak negara.

Dia tidak fokus pada jumlah total kasus di suatu negara, tetapi pada jumlah kasus baru yang diidentifikasi setiap hari, terutama pada perubahan jumlah dari satu hari ke hari berikutnya, “Angkanya masih tinggi, tapi ada tanda-tanda jelas bahwa pertumbuhannya melambat,” katanya.

Misalnya di Korea Selatan, kasus yang baru dikonfirmasi ditambahkan ke total negara setiap hari, tetapi penghitungan hariannya telah menurun dalam beberapa minggu terakhir. Itu menunjukkan wabah di sana sudah mulai mereka.

Begitu juga di Iran, yang jumlah kasus baru perharinya masih tetap relatif datar dibandingkan dengan minggu lalu. Kendati begitu, Levitt menyatakan negara tersebut telah menunjukkan pola wabah yang mereda. Sudah melewati tanda setengah jalan, istilah yang digunakannya.

Namun demikian, di tempat-tempat yang telah berhasil pulih dari wabah awal, para pejabatnya masih harus berjuang dengan fakta bahwa virus corona dapat kembali. China sekarang sedang berjuang untuk menghentikan gelombang infeksi baru, begitu juga dengan negara-negara lain yang akan menghadapi hal serupa.

Levitt mengakui bahwa angka-angkanya yang dianalisisnya cukup berantakan dan jumlah kasus resmi di banyak daerah terlalu rendah karena pengujiannya yang tidak memadai. Tetapi bahkan dengan data yang demikian, dia optimistis adanya pelambatan yang konsisten di banyak negara di dunia terkait kasus COVID-19.

Informasi soal lintasan kematian mendukung penemuannya karena mengikuti tren dasar yang sama denga kasus-kasus yang baru dikonfirmasi. Begitu juga dengan data dari wabah di lingkungan terbatas, seperti pada kapal pesiar Diamond Princess.

Eksperimen terkait penyebaran virus corona ini akan membantu para penliti memperkirakan jumlah kematian yang akan terjadi pada populasi yang terinfeksi. Misalnya, data Diamond Princess memungkinkannya membuat perkiraan bahwa virus corona baru menggandakan risiko seseorang meninggal dalam 2 bulan ke depan.

Nicholas Reich, ahli biostatistik di University of Massachusetts Amherst mengatakan bahwa analisis tersebut memberikan perspektif yang lain tentang pandemi global COVID-19.

“Waktu akan memberi tahu apakah prediksi Levitt benar. Saya benar-benar berpikir memiliki beragam pakar yang membawa perspektif mereka akan membantu pembuat keputusan menavigasi kebijakan yang akan mereka hadapi di waktu mendatang,” katanya.

Levitt mengatakan dirinya mendukung upaya untuk menyerukan langkah-langkah strategis untuk memerangi wabah tersebut. Mandat social distancing sangat penting karena virus ini sangat baru sehingga penduduk tidak memiliki kekebalan terhadap virus dan vaksin masih dalam tahap pengembangan.

Selain itu, dia melanjutkan bahwa mendapatkan vaksin flu juga menjadi langkah penting karena virus corona baru ini menyerang di tengah epidemi flu yang meningkatkan kemungkinan orang pergi ke rumah sakit.

Namun, dia juga menyalahkan media karena menyebabkan kepanikan yang tidak perlu dengan berfokus pada peningkatan jumlah kasus kumulatif dan menyoroti para selebriti yang tertular virus tersebut.

Sementara, lanjutnya, berdasarkan data Centers for Disease Control and Prevention penyakit flu telah membuat sakit sekitar 36 juta orang di Amerika sejak November dan membunuh sekitar 22.000 orang, tetapi kematiannya sebagian besar tidak dilaporkan.

Levitt khawatir langkah-langkah yang telah menutup pereknomian dapat menyebabkan bencana kesehatan kepada masyarakat, karena kehilangan pekerjaan menyebabkan kemiskinan dan keputusasaan. Berkali-kali para peneliti telah melihat bahwa tingkat bunuh diri naik ketika ekonomi negara menurun.

Sementara tingkat kematian akibat COVID-19 tampaknya masih singnifikan saat ini di berbagai negara, Levitt optimistis itu akan segera melambat. Dan dengan lugas dia menyampaikan bahwa pandemi ini, “bukan akhir dunia”.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Virus Corona
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top