Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Tingkat Pengangguran AS Bisa Melonjak Hingga 30 Persen

Federal Reserve Bank of St. Louis James Bullard menyerukan respons fiskal yang kuat untuk menggantikan hilangnya pendapatan senilai US$ 2,5 triliun pada kuartal kedua.
Reni Lestari
Reni Lestari - Bisnis.com 23 Maret 2020  |  12:39 WIB
Presiden dan CEO Federal Reserve Bank of St. Louis berbicara dalam National Association of Business Economics' (NABE) Economic Policy Conference di Washington DC, AS -  Bloomberg / Joshua Roberts
Presiden dan CEO Federal Reserve Bank of St. Louis berbicara dalam National Association of Business Economics' (NABE) Economic Policy Conference di Washington DC, AS - Bloomberg / Joshua Roberts

Bisnis.com, JAKARTA - Federal Reserve Bank of St. Louis, satu dari 12 bank sentral regional AS, memprediksi tingkat pengangguran Negeri Paman Sam akan melonjak hingga 30 persen pada kuartal II/2020 akibat penutupan bisnis di tengah upaya pencegahan penyebaran virus corona.

Untuk mengatasi hal tersebut, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis James Bullard menyerukan respons fiskal yang kuat untuk menggantikan hilangnya pendapatan senilai US$ 2,5 triliun pada kuartal kedua dan memastikan pemulihan ekonomi berjalan prima.

Dia menambahkan Federal Reserve siap melakukan lebih banyak upaya untuk mempertahankan fungsi pasar selama periode volatilitas yang tinggi.

"Semuanya ada di atas meja. Ada lagi yang bisa kita lakukan jika perlu. Mungkin akan ada lebih banyak langkah di bulan-bulan mendatang, tergantung keputusan Kongres," katanya dilansir Bloomberg, Senin (23/3/2020).

Penilaian serius Bullard itu menggarisbawahi kebutuhan kritis agar Kongres dan Gedung Putih dengan cepat merumuskan kesepakatan mengenai paket stimulus corona.

The Fed pekan lalu memulai kembali program-program era krisis keuangan untuk membantu pasar commercial paper dan uang, setelah memangkas suku bunga mendekati nol dan berjanji untuk meningkatkan kepemilikan US Treasuries sedikitnya US$500 miliar dan sekuritas hipotek setidaknya US$200 miliar.

"Ini adalah rencana penutupan sebagian ekonomi AS. Tujuan keseluruhannya adalah untuk menjaga semua orang, rumah tangga dan bisnis tetap utuh dengan dukungan pemerintah. Ini adalah kejutan besar dan kami berusaha mengatasinya dan mengendalikannya," ujarnya.

Adapun minggu lalu, Bank sentral AS membeli US$272 miliar obligasi pemerintah dari lebih dari US$500 miliar yang diotorisasi. Bullard mengatakan, jumlah pembelian obligasi pemerintah bisa lebih tinggi, jika diperlukan.

Pendanaan commercial paper harus diharapkan menopang perusahaan bergantung pada utang jangka pendek. The Fed juga kemungkinan akan membeli obligasi korporasi, jika diperlukan.

"Kami tentu bisa melakukan itu. Kami sudah mendukung pasar pendanaan jangka pendek," ujar Bullard.

Bullard mengatakan pembelian surat utang pemerintah daerah oleh Fed juga diizinkan. Pada saat yang sama, dia mengatakan Fed perlu berhati-hati dan selektif memilih utang mana yang akan dibeli. Jangan sampai bank sentral mengalami krisi kredit seperti yang terjadi pada otoritas Eropa saat krisis keuangan 2008.

Dengan respons pemerintah yang agresif, Bullard menilai aktivitas harus mulai bangkit kembali. "Saya melihat kuartal ketiga sebagai kuartal transisi. Kuartal keempat dan kuartal pertama tahun depan akan cukup kuat karena orang Amerika menebus pengeluaran yang hilang," tambahnya.

Bullard juga mendesak agar asuransi pengangguran mencakup 100 persen pendapatan yang hilang bagi para pekerja. Dia menyebut kompensasi itu sebagai asuransi pandemi karena dimaksudkan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tingkat pengangguran federal reserve Virus Corona

Sumber : Bloomberg

Editor : Hadijah Alaydrus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top