Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Militer AS Akui Pesawatnya Jatuh di Afghanistan

Militer AS mengonfirmasi bahwa salah satu pesawatnya jatuh di Afghanistan timur, tetapi mengatakan "tidak ada indikasi kecelakaan itu disebabkan oleh tembakan musuh".
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 28 Januari 2020  |  07:55 WIB
Ilustrasi - Pesawat militer Amerika Serikat lepas landas meninggalkan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar, Aceh, Jumat (7/4). - Antara/Irwansyah Putra
Ilustrasi - Pesawat militer Amerika Serikat lepas landas meninggalkan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh Besar, Aceh, Jumat (7/4). - Antara/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA - Militer AS mengonfirmasi bahwa salah satu pesawatnya jatuh di Afghanistan timur, tetapi mengatakan "tidak ada indikasi kecelakaan itu disebabkan oleh tembakan musuh". 

Sebelumnya, seorang juru bicara Taliban mengklaim bahwa kelompok itu menembak jatuh pesawat tersebut atas wilayah yang mereka kendalikan di dekat Kota Ghazni.

Pesawat jenis Bombardier E-11A AS itu jatuh kemarin sore dan awalnya dikira oleh otoritas Afghanistan sebagai jet penumpang. Tapi, rekaman dari lokasi menunjukkan lencana angkatan udara AS yang ada di badan pesawat hangus.

"Sementara penyebab kecelakaan sedang diselidiki, tidak ada indikasi bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh tembakan musuh," ujar juru bicara militer AS di Afghanistan seperti dikutip Theguardian.com, Selasa (28/1/2020).  

Juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diposting online: "Sebuah pesawat penyerbu Amerika telah ditembak jatuh. Banyak perwira yang terbunuh.

Disebutkan juga bahwa perwira tinggi CIA ada di pesawat, tetapi klaim itu tidak dapat diverifikasi secara independen.

Para pejuang Taliban mengatakan kepada Guardian bahwa penembakan yang diklaim terhadap pesawat itu "tidak berdampak" pada negosiasi atas penarikan AS dari Afghanistan. "Belum ada kesepakatan yang tercapai dan orang Amerika Serikat melanjutkan serangan mereka.

Tariq Ghazniwal, seorang jurnalis lokal, mengatakan dia melihat dua mayat, tetapi yang lain menghitung total lima mayat.

Pesawat E-11A Battlefield Airborne Communications Node disebut angkatan udara AS sebagai "wifi di langit" atau satelit komunikasi keliling untuk mendukung misi di daerah terpencil yang tidak punya infrastruktur komunikasi.

Taliban dilaporkan memiliki akses ke senjata anti-pesawat, termasuk kasus-kasus di mana mereka menembakkan rudal jenis Stinger yang dipasok ke pemberontak oleh CIA selama pendudukan Rusia tahun 1980-an.

Pada 2007, para pejuang Taliban diduga menggunakan rudal permukaan-ke-udara yang digunakan untuk menembak jatuh helikopter Chinook dan menewaskan semua penumpang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

afghanistan militer as
Editor : Nancy Junita
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top