Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Grand Desain Peningkatan Keterwakilan Perempuan di Politik Disusun

Representasi perempuan sampai saat ini masih terbatas persentasenya dalam politik Indonesia, aktivitas kehidupan politik di Indonesia masih didominasi oleh laki-laki.
Asteria Desi Kartika Sari
Asteria Desi Kartika Sari - Bisnis.com 19 Januari 2020  |  17:33 WIB
Anggota DPR yang juga artis Mulan Jameela (tengah) berbincang dengan rekan sejawatnya saat mengikuti Sidang Paripurna MPR - ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat
Anggota DPR yang juga artis Mulan Jameela (tengah) berbincang dengan rekan sejawatnya saat mengikuti Sidang Paripurna MPR - ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA— Representasi perempuan sampai saat ini masih terbatas persentasenya dalam politik Indonesia, aktivitas kehidupan politik di Indonesia masih didominasi oleh laki-laki.

Sebagai negara demokrasi, bangsa Indonesia tidak lepas dari hiruk pikuk kehidupan politik. Laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama untuk berpartisipasi dalam dunia politik.

Padahal, pemerintah telah mencanangkan porsi keterwakilan perempuan dalam politik sebesar 30 persen. Tetapi angka tersebut tetap saja masih belum tercapai.

Salah satu contohnya adalah keterwakilan politik di ranah legislatif. Berdasarkan data KPU (2019), komposisi anggota legislatif dari total 575 anggota DPR, hanya 118 orang perempuan (20,52%) dan sisanya sebanyak 457 orang diisi oleh laki-laki.

Dengan alasan tersebut, maka pemerintah dalam hal ini Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) melakukan Rapat Koordinasi Perkembangan Penyusunan Grand Design Peningkatan Keterwakilan Perempuan dalam Politik.

Deputi Bidang Koordinasi Perlindungan Perempuan dan Anak Kemenko PMK, Ghafur Dharmaputra mengatakan pemerintah berupaya mempercepat terwujudnya peningkatan keterwakilan perempuan sebesar 30% di legislatif pada tahun 2024.

Menurutnya, pemerintah melalui program dan kegiatan yang ada diharapkan mampu melibatkan perempuan secara aktif dalam politik dan pembangunan.

"Pemerintah perlu menerapkan peraturan dan kebijakan yang diharapkan dapat mendukung terwujudnya kuota 30% keterwakilan perempuan dalam politik" terang Ghafur dikutip dalam laman Kemenko PMK, Minggu (19/1/2020).

Asisten Deputi Bidang Politik, Hukum dan Hankam Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindunhan Anak (Kemen PPPA), Endah Sri Rejeki mengatakan yang masih menjadi hambatan mengapa kuota politik perempuan tak bisa terpenuhi adalah faktor budaya masyarakat.

Menurutnya, perempuan biasanya tak bisa mengelak dari dominasi laki-laki dan tidak memiliki rasa percaya diri untuk berkontribusi secara penuh dalam politik.

Dia mengatakan pemerintah dan segenap elemen masyarakat harus mampu dan saling bekerjasama dalam menerobos hal tersebut untuk meningkatkan keterwakilan perempuan di legislatif.

"Salah satunya, kita bisa mempelajari dan menerapkan budaya lokal yang ramah terhadap perempuan, yang terbukti daerahnya cukup banyak keterwakilan perempuannya dalam legislatifnya," katanya.

Selain itu, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membangun kesadaran politik perempuan menurut Pimpinan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) GKR Hermas adalah penerapan pendidikan politik sejak dini. Sekolah diharapkan mampu melatih anak perempuan untuk berani bicara, dilibatkan dalam aktivitas sekolah dan kegiatan sosial.

Salah satu yang diusulkan dalam diskusi adalah perlu dibuat Peraturan Presiden (Perpres) dalam mengikat berbagai kepentingan dan kerja sama antar kementerian dan lembaga guna mewujudkan kterwakilan perempuan sebesar 30% di legislatif.

"Ini tugas kita bersama untuk nantinya bisa membuat lebih detail atas rencana tersebut" kata Ghafur.

Menurut Ghafur, apabila sudah bisa tersedia perangkat kebijakan tersebut, selanjutnya adalah bagaimana mempersiapkan kapasitas dari perwakilan politik agar menjadi politisi yang sebenarnya dan bukan sekedar mengisi kebutuhan persyaratan administrasi.

Apabila berhasil, kemudian tinggal mengembangkan tahapan-tahapan rancangan untuk menjadi setara 50:50 antara laki-laki dan perempuan pada tahun 2030.

"Kalau memang sudah ada 30% calon potensial perempuan, maka pekerjaan rumah kita adalah bagaimana mempersiapkannya agar betul-betul bisa duduk di legislatif," pungkas Deputi Ghafur.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dpr politik perempuan
Editor : Rustam Agus
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top