Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Parlemen Irak Minta AS dan Pasukan Asing Keluar dari Negaranya 

Sekitar 5.000 tentara AS masih berada di Irak yang sebagian besar berperan sebagai penasihat keamanan.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 06 Januari 2020  |  05:59 WIB
Seorang tentara AS berjaga di sebuah basis militer AS di Mosul, Irak, Selasa (14/2/2017). - Reuters/Khalid al Mousily
Seorang tentara AS berjaga di sebuah basis militer AS di Mosul, Irak, Selasa (14/2/2017). - Reuters/Khalid al Mousily

Bisnis.com, JAKARTA — Parlemen Irak meminta supaya AS dan pasukan asing lainnya untuk pergi dari negaranya di tengah meningkatnya serangan balasan atas pembunuhan terhadap seorang komandan militer Iran yang memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik Timur Tengah.

Dalam perang kata-kata antara Iran dan Amerika Serikat, Menlu AS Mike Pompeo mengatakan bahwa Washington akan menargetkan setiap pembuat keputusan Iran yang mereka pilih jika ada serangan lebih lanjut terhadap kepentingan AS oleh pasukan Iran atau proksi mereka.

Komandan Militer Iran Qassem Soleimani tewas pada Jumat (3/1/2020) dalam serangan pesawat tak berawak milik AS di Bandara Baghdad. Serangan itu memicu permusuhan AS-Iran yang lebih luas dan tidak terukur selain berpotensi menimbulkan perang.

Ketika Washington dan Teheran saling mengancam, Uni Eropa, Inggris, dan Oman mendesak agar mereka untuk melakukan upaya diplomatik untuk meredakan krisis.

Parlemen Irak mengeluarkan resolusi yang menyerukan diakhirinya keberadaan semua pasukan asing. Hal itu mencerminkan kekhawatiran banyak orang di Irak bahwa kalau terjadi perang AS-Iran, warga negaranya yang akan menjadi korban.

"Pemerintah Irak harus bekerja untuk mengakhiri keberadaan pasukan asing di tanah Irak dan melarang mereka menggunakan tanah, ruang udara, atau air dengan alasan apa pun," menurut pernyataan parlemen seperti dikutip Reuters, Senin (6/1/2020).

Meski resolusi semacam itu tidak mengikat, hal itu akan tetap menjadi perhatian. Pasalnya, Perdana Menteri Adel Abdul Mahdi sebelumnya telah meminta supaya parlemen mengakhiri kehadiran pasukan asing sesegera mungkin.

Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka kecewa dengan hasil keputuan parlemen tersebut.

"Sementara kami menunggu klarifikasi lebih lanjut tentang sifat hukum dan dampak dari resolusi hari ini. Kami sangat mendesak para pemimpin Irak untuk mempertimbangkan kembali pentingnya hubungan ekonomi dan keamanan yang sedang berlangsung antara kedua negara dan terus hadirnya koalisi global untuk mengalahkan ISIS," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS Morgan Ortagus dalam sebuah pernyataan.

Sekitar 5.000 tentara AS masih berada di Irak yang sebagian besar berperan sebagai penasihat keamanan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

timur tengah irak
Editor : Zufrizal
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top