Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Alutsista Negara : TNI AU Semakin Garang di Udara

Menurut catatan yang ada, dari jet tempur tipe F-16 saja, Indonesia saat ini memiliki sedikitnya 33 unit legenda berjuluk Fighting Falcon tersebut.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 05 Desember 2019  |  11:32 WIB
Presiden Joko Widodo menaiki kokpit pesawat tempur JF-17 Thunder untuk melihat dari dekat pesawat tersebut sesaat sebelum bertolak menuju Bangladesh di Pangkalan Udara Nur Khan, Islamabad, Pakistan, Sabtu (27/1). - ANTARA/Setpres
Presiden Joko Widodo menaiki kokpit pesawat tempur JF-17 Thunder untuk melihat dari dekat pesawat tersebut sesaat sebelum bertolak menuju Bangladesh di Pangkalan Udara Nur Khan, Islamabad, Pakistan, Sabtu (27/1). - ANTARA/Setpres

Kabar24.com, JAKARTA — Kenapa pilihan jatuh kepadanya? “The F-16 remains the world’s most successful, combat-proven multirole fighter. Approximately 3,000 operational F-16s are in service today in 25 countries. New production aircraft; structural, and capability upgrades ensure the F-16 can operate to 2070 and beyond.” Demikian informasi yang tertulis di situs resmi perusahaan tersebut.

Intinya, mesin perang tersebut memang dikenal tangguh untuk jangka waktu operasi yang lama, sehingga banyak negara menggunakannya.

Kenapa TNI Aangkatan Udara (AU) akan makin garang? Menurut catatan yang ada, dari jet tempur tipe F-16 saja, Indonesia saat ini memiliki sedikitnya 33 unit legenda berjuluk Fighting Falcon tersebut.

Artinya, dari segi jumlah sudah melebihi satu skuadron. Selain F-16 Viper yang direncanakan sebanyak dua skuadron, Indonesia juga membidik jago dog fight lainnya dari Timur, yaitu Sukhoi Su-35 yang disebut-sebut sebanyak 11 unit.

Mesin perang matra udara ini diproyeksikan mengisi kekuatan TNI AU pada 2020—2024.

Mengacu pada survei Global FirePower 2019, kekuatan jet tempur Indonesia tercatat sebanyak 41 unit dan 65 unit pesawat serang.

Survei yang sama juga menyebutkan bahwa kekuatan militer Indonesia menduduki peringkat 16 dunia dari 137 negara yang diteliti dan di posisi 9 untuk kawasan Asia.

Modernisasi dan sekaligus penguatan alat utama sistem pertahanan (Alutsista) di sektor udara ini memang sangat strategis dalam rangka memenuhi kekuatan pokok minimum (minimum essential force/MEF) matra udara yang saat ini baru mencapai sekitar 44%.

TNI AU memasang target pada 2024 MEF sudah dapat melesat di angka maksimal (100%).

Penguatan MEF tersebut juga sejalan dengan Kebijakan Pertahanan Tahun 2019 seperti yang disampaikan oleh Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu pada Februari lalu.

Utamanya adalah menindaklanjuti pembangunan Postur Pertahanan Militer. Pelaksanaan kebijakan ini diarahkan untuk pembangunan Kekuatan Pokok Minimun TNI yang berpedoman pada konsep pengembangan postur ideal TNI.

Pembangunan MEF TNI telah direncanakan dalam jangka panjang dengan mengacu pada aspek modernisasi alutsista, pemeliharaan dan perawatan, pengembangan organisasi maupun pemenuhan sarana prasarana.

Selain itu, didukung pula dengan kemampuan industri pertahanan nasional dan profesionalisme, serta peningkatan kesejahteraan prajurit.

Bila dicermati, pengadaan dan modernisasi Alutsista TNI dewasa ini bisa dikatakan sudah berada di jalan yang benar (on the right track). Dilakukan secara terencana dan terukur.

Coba saja tengok dari aspek MEF. Sejak dicanangkan pada 2007, MEF dibagi menjadi tiga rencana strategis hingga 2024.

MEF tidak hanya meliputi modernisasi bidang teknologi, tetapi juga industri pertahanan, yang kini percepatannya dapat didorong oleh Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

Di sisi lain, berbagai dinamika keamanan global cenderung menghangat hingga beberapa tahun ke depan sebagai akibat dampak langsung maupun tidak langsung dari kelanjutan perang dagang AS-China, tensi politik kawasan di semenanjung Korea, Laut China Selatan, Timur Tengah hingga konstelasi politik di Hong Kong.

Perang Dingin memang sudah usai. Namun, bukan berarti tidak ada perang antar blok super power dalam wujud yang baru. Timbulnya Perang Dagang membuat negara saling ‘berperang’ untuk menjadikan dirinya ‘surga baru investasi’.

“Berakhirnya Perang Dingin mungkin merepresentasikan threat trough, sebuah periode persaingan keamanan internasional yang telah berkurang secara substansial. Penurunan dalam lingkungan ancaman eksternal ini mungkin juga mempengaruhi negara dan politik domestik,” ujar Michael C. Desch dalam karyanya berjudul Civilian Control of the Military: The Changing Security Environment.

Namun, kita tak boleh lengah dalam sekejap pun. Harus terus mengasah kecermatan dan kewaspadaan, terutama bidang pertahanan dan keamanan. Apalagi, belanja militer Indonesia tergolong mini. Tahun ini Rp121 triliun.

Tak heran di Asean, menurut Stockholm International Peace Research Institute 2018, kita berada di peringkat ke-8 setelah Malaysia. Indonesia hanya unggul dari Thailand dan Timor Leste dalam hal belanja militer 2017.

Dalam kondisi demikian, bisa jadi strategi yang paling tepat adalah ‘cari teman, jangan cari musuh’. Namun, menjaga kehormatan dan harga diri Merah Putih adalah nomor satu.

Dan rasanya tak perlu lagi membeli alutsista dengan gaya ‘siluman’, karena bila disabot pihak-pihak yang mempunyai kepentingan tertentu, bisa bikin dunia geger.

Itulah ketika di pengujung 1979 Indonesia berhasil mendatangkan 32 pesawat tempur bekas A-4 E Skyhawk dari Israel. Padahal, Jakarta tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.

Singkat kata, seperti diulas dalam Seri Buku Tempo berjudul Benny Moerdani yang Belum Terungkap, jet tempur buatan AS tersebut akhirnya bisa dipamerkan kepada publik pada peringatan ulang tahun ABRI 5 Oktober 1980.

Terbang di langit Nusantara berkat operasi khusus bersandi Al­pha (nama depan pesawat Skyhawk) pimpinan Benny Moerdani.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tni tni au angkatan udara pesawat tempur
Editor : Stefanus Arief Setiaji
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top