Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

CEK FAKTA : Terjadi Ledakan Nuklir di Laut China Selatan, Betulkah?

Badan Meteorologi Klimatologo dan Geofisika merilis penjelasan bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir terkait isu adanya paparan radiasi nuklir di Laut China Selatan.
Saeno
Saeno - Bisnis.com 22 November 2019  |  21:55 WIB
Foto aerial dari pesawat militer Filipina memperlihatkan bagaimana China melakukan reklamasi di pulau karang di kawasan Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang letaknya berada di sebelah Barat Palawan, Filipina (11/5/2015). - Reuters/ Ritchie B. Tongo
Foto aerial dari pesawat militer Filipina memperlihatkan bagaimana China melakukan reklamasi di pulau karang di kawasan Kepulauan Spratly di Laut China Selatan yang letaknya berada di sebelah Barat Palawan, Filipina (11/5/2015). - Reuters/ Ritchie B. Tongo

Bisnis.com, JAKARTA - Badan Meteorologi Klimatologo dan Geofisika merilis penjelasan bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir terkait isu adanya paparan radiasi nuklir di Laut China Selatan.

Isu yang beredar menyebutkan adanya paparan radiasi nuklir di Laut Cina Selatan pada 20 November 2019.

Terkait isu tersebut, Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono dan Direktur Keteknikan dan Kesiapsiagaan Nuklir BAPETEN Dedik Eko Sumargo menyampaikan beberapa penjelasan.

"Berdasarkan pemantauan dari jaringan stasiun monitoring gempa bumi yang masuk dalam sistem prosesing di BMKG dan dari hasil analisa rekaman seismik di dua lokasi yang terdekat dengan perkiraan lokasi ledakan Nuklir di Laut Cina Selatan, yaitu di Vietnam (DLV) dan di Taiwan (TWGB), kami nyatakan tidak terdeteksi adanya anomali sinyal seismik yg menunjukkan (mengindikasikan) akibat dari ledakan nuklir, yang diperkirakan terjadi sekitar tanggal 20 November 2019 pada pukul 18:22 Eastern US Time (21 November 2019 pukul 06:22 WIB)," demikian ujar keduanya dalam pernyataan resmi, diterima Jumat (22/11/2019).

Lebih jauh disebutkantidak terdeteksi adanya tingkat radiasi yang signifikan di lokasi tersebut.

Hal itu didasarkan pada hasil pemantauan sensor Radiological Data Monitoring System (RDMS) yang dipasang Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) di lokasi 6 stasiun monitoring CTBTO. Enam lokasi itu terdapat di Stasiun BMKG di Deli Serdang Medan, di Lembang Bandung, di Kappang Sulawesi Selatan, di Kupang NTT, di Sorong Papua Barat dan di Jayapura Papua.

Demikian juga dengan hasil pemantauan sensor yang terpasang di Stasiun BMKG di Tanjung Pinang Kepulauan Riau, di Tarakan Kalimantan Utara, dan di Gorontalo.

"Kami nyatakan bahwa tidak terdeteksi adanya tingkat radiasi yang signifikan di lokasi tersebut dibandingkan
dengan tingkat radiasi alamiah," ujar keduanya.

Selanjutnya, berdasarkan hasil data monitoring tersebut dapat disimpulkan bahwa berita soal adanya paparan radiasi nuklir di Laut Cina Selatan tidak terbukti.

"Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak benar terkait kabar adanya paparan radiasi nuklir di Laut Cina Selatan yang berdampak di Indonesia," ujar Rahmat dan Dedik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

nuklir laut china selatan hoax

Sumber : BMKG/BAPETEN

Editor : Saeno
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top