Mengapa India Menarik diri Dari RCEP?

India membuat keputusan yang cukup mengejutkan di arena pertemuan tingkat tinggi (KTT) Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dengan memutuskan tidak bergabung dengan blok kerjasama yang diisi sebagian besar negara-negara Asia Tenggara tersebut.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 07 November 2019  |  06:26 WIB
Mengapa India Menarik diri Dari RCEP?
Perdana Menteri India Narendra Modi dan Perdana Menteri Cina Li Keqiang menghadiri KTT Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) ke-3 di Bangkok, Thailand, 4 November 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - India membuat keputusan yang cukup mengejutkan di arena pertemuan tingkat tinggi (KTT) Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) dengan memutuskan tidak bergabung dengan blok kerjasama yang diisi sebagian besar negara-negara Asia Tenggara tersebut.

Meski terkesan melawan arus dengan tidak patuh pada kesepakatan sebagai besar negara di kawasan termasuk China, akan tetapi India punya pendirian tersendiri.

Ternyata, bagi India RCEP  tidak sekadar merugikan ekonomi negaranya yang sebagai besar didorong oleh kelompok usaha kecil, namun juga ada semacam keprihatinan atas kian kuatnya domninasi China di kawasan yang dikenal sebagai penyedia barang-murah.

India tidak mau kalau pasar dalam negerinya akan dibanjiri oleh produk-produk China yang dikenal sangat murah karena rendahnya biaya produksi termasuk gaji buruh.

Sebagai catatan, China di bawah komando Presiden Xi jinping saat ini tengah menghadapi perang dagang melawan Amerika Serikat yang dipimpin Presiden Donald Trump.

Perdana Menteri China Li Keqiang dan Perdana Menteri Thailand Prayuth Chan-Ocha berjabat tangan di KTT Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) ke-3 di Bangkok, Thailand, 4 November 2019./Reuters

Kedua negara terlibat saling menaikkan tarif impor untuk menekan pihak lawan dalam satu percaturan dagang yang belum jelas ujungnya sehingga memicu ketidakpastian perdagangan global.

Karena itulah Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan kesepakatan itu tidak memperhatikan apa yang dia khawatirkan. India berpandangan selain tidak membahas isu-isu yang jadi perhatian India dalam perundingan sebelum membuat perjanjian, sumber yang dekat dengan perundingan itu mengatakan perjanjian RCEP dengan China dan negara-negara Asean tidak mencerminkan "niat awal" dan hasilnya "tidak adil atau tidak seimbang".

Dalam pidatonya di KTT RCEP di Bangkok, PM Modi mengatakan, India menuntut integrasi regional yang lebih besar serta perdagangan yang lebih bebas dan kepatuhan terhadap tatanan internasional berbasis aturan, bukan dipaksakan.

Menurutnya, India telah pro-aktif, konstruktif dan memberi makna dalam negosiasi RCEP sejak awal. Artinya, India telah bekerja untuk tujuan yang sangat dihargai yaitu keseimbangan dalam semangat memberi dan menerima. "

"Hari ini, ketika kita melihat di sekeliling selama tujuh tahun negosiasi RCEP, banyak hal termasuk skenario ekonomi dan perdagangan global telah berubah. Kita tidak dapat mengabaikan perubahan ini sehingga Perjanjian RCEP saat ini tidak sepenuhnya mencerminkan dasar dasar dan prinsip-prinsip yang mendasari RCEP yang telah disepakati,” ujar Modi seperti dikutip situs indiatoday.in, Selasa (5/11/2019).

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, Perdana Menteri India Narendra Modi, dan Perdana Menteri Cina Li Keqiang menghadiri KTT Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP) ke-3 di Bangkok, Thailand, 4 November 2019./Reuters

Menurut Modi kesepakatan RCEP juga tidak mengatasi masalah dan kekhawatiran India yang luar biasa sehingga tidak mungkin bagi India untuk bergabung dengan Perjanjian RCEP, kata Modi.

Sumber lainnya mengatakan mengapa India tidak berkenan dengan perjanjian itu adalah karena China secara paksa mendorong untuk menandatangani kesepakatan selama KTT RCEP.

China yang terdesak oleh serangan AS dalam perang dagang, dipandang berupaya menyeimbangkan dampak dari perang berkepanjangan itu dengan memengaruhi blok RCEP.

Sebelumnya, kesepakatan RCEP akan ditandatangani oleh 10 negara anggota dari Asosiai Negara-negara Asia Tenggara (Asean) dan enam mitra dialog blok tersebut, yakni China, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, dan Selandia Baru.

Menteri Perdagangan Airlangga Hartarto mengatakan dari sisi volume perdagangan, 16 negara anggota RECP, kalau India masuk, akan mewakili nilai perdagangan US$11,5 triliun. Sedangkan Uni Eropa hanya US$12,5 triliun dan Kemitraan Trans-Pasifik hanya sebesar US$5,8 triliun.

"Kalau kita bicara penduduk, RCEP dengan 3,6 miliar jiwa tentu jauh lebih besar daripada EU dan PBB. Oleh karena itu, tadi hampir seluruh pemimpin itu mendorong agar perundingan ini bisa difinalisasi bersama India," kata Airlangga.

Akan tetapi apadaya, India memutuskan untuk tidak bergabung dengan RCEP meski China menyatakan siap menerima kembali kalau India berubah pikiran dan segera bergabung.  

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
china, india, rcep

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top