Lagarde Ambil Alih Zona Euro

Lagarde akan menjadi satu-satunya perempuan di dalam dewan gubernur ECB selama beberapa pekan ke depan, hingga pengganti Sabine Lautenschlaeger diangkat ke dalam dewan eksekutif, untuk merancang mengimplementasikan kebijakan moneter di zona euro.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 01 November 2019  |  13:54 WIB
Lagarde Ambil Alih Zona Euro
Christine Lagarde. - REUTERS/Arnd Wiegmann

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Sentral Eropa kini resmi dinakhodai oleh pemimpin perempuan pertama, Christine Lagarde, menggantikan Mario Draghi yang mempertahankan zona euro selama 1 dekade terakhir.

Dia akan menjadi satu-satunya perempuan di dalam dewan gubernur ECB selama beberapa pekan ke depan, hingga pengganti Sabine Lautenschlaeger diangkat ke dalam dewan eksekutif, untuk merancang mengimplementasikan kebijakan moneter di zona euro.

Lagarde sudah terbiasa dengan hal tersebut, rekam jejaknya sebagai menteri keuangan Prancis dan direktur pelaksana IMF cukup untuk membekali perannya di benua biru.

Tugas pertama, dan mungkin rumit, untuk Lagarde adalah menyatukan kembali perbedaan pendapat yang terjadi di dalam internal bank sentral terkait upaya penyelamatan ekonomi regional.

Pendekatan Draghi untuk menyelamatkan ekonomi zona euro menuai perselisihan internal yang meluap ke publik, secara kritis hal ini melemahkan kesatuan bank sentral yang dibutuhkan untuk meyakinkan investor bahwa ECB berkomitmen terhadap kebijakannya.

Menurut beberapa pembuat kebijakan, gaya manajemen Draghi secara tajam meningkatkan ketegangan dan oposisi pada akhir masa jabatannya.

Mereka mengatakan lebih lanjut bahwa menciptakan konsensus seluas mungkin dan memastikan bahwa ECB satu suara harus menjadi prioritas utama Christine Lagarde ketika dia mengambil alih kepemimpinan.

Menjamin investor bahwa kebijakan bank akan tetap konsisten akan memberikan pasar sebuah kepastian, mereka menambahkan.

"Mario bersedia bertahan dengan dukungan suara 50%+1, Lagarde perlu mengubah situasi ini," kata salah satu pembuat kebijakan, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya, dikutip melalui Reuters, Jumat (1/11/2019).

Perpecahan publik yang paling dramatis terjadi bulan lalu, ketika ECB setuju untuk melanjutkan pembelian obligasi pemerintah dalam upaya untuk menggerakkan ekonomi yang memudar dan mendorong inflasi ke target di bawah 2%.

Lebih dari sepertiga pembuat kebijakan keberatan dengan keputusan Draghi, ini merupakan perbedaan pendapat terbesar yang dihadapinya selama 8 tahun sebagai pimpinan sebuah organisasi yang secara tradisional berjuang untuk mencapai konsensus.

Sejumlah pembuat kebijakan menekankan bahwa tugas Lagarde kini adalah untuk mengakhiri perselisihan publik dan kembali mengambil keputusan konsensus atau menjauhkan ketidakcocokan internal dari media.

"Memilih Lagarde adalah keputusan yang baik karena jelas yang dibutuhkan saat ini adalah keterampilan diplomatik dalam berurusan dengan ECB dan pemerintah," ujar mantan gubernur Bank Sentral Austria Ewald Nowotny.

Di samping itu, Lagarde juga tetap harus mendampingi sejumlah ekonomi penopang zona euro agar tidak terseret terlalu dalam pada jurang resesi.

Negara ekonomi terbesar di Eropa seperti Jerman dan Prancis akan menjadi pusat perhatian pasar dan dunia selama pertumbuhan ekonomi global melambat.

Beberapa waktu lalu, Lagarde menyampaikan bahwa negara di zona euro dengan anggaran surplus yang besar harus melakukan lebih banyak investasi untuk mendorong pertumbuhan.

Dalam wawancara sebelum dia menjabat sebagai gubernur ECB, Lagarde menyebut Belanda dan Jerman sebagai negara yang perlu mengeluarkan stimulus untuk menggenjot ekspansi.

“Mereka yang memiliki ruang untuk bermanuver, mereka yang memiliki surplus anggaran, yaitu Jerman, Belanda, mengapa tidak menggunakan surplus anggaran itu dan berinvestasi dalam infrastruktur, pendidikan, atau inovasi untuk memungkinkan re-balancing yang lebih baik?" katanya.

Ada ketidaksepakatan dalam zona euro, sebuah sikap yang tercermin di dalam ECB, tentang cara terbaik untuk menghidupkan kembali pertumbuhan ekonomi.

Laju pertumbuhan di zona euro masih lamban dalam satu dekade setelah krisis keuangan global, sedangkan ekonomi utama lainnya telah bangkit kembali.

Beberapa negara di zona euro menyukai pendekatan konservatif, salah satunya dengan mengandalkan kebijakan moneter saat ini. Sementara yang lain, termasuk Prancis yang merupakan negara asal Lagarde, percaya peningkatan investasi adalah jawabannya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
christine lagarde

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top