Pertemuan Nasdem-PKS Redakan Ketegangan di Akar Rumput

Pertemuan elite Partai Nasdem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diyakini dapat meredakan ketegangan di tingkat akar rumput akibat residu politik kontestasi Pilpres 2019.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 01 November 2019  |  13:40 WIB
Pertemuan Nasdem-PKS Redakan Ketegangan di Akar Rumput
Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Surya Paloh (kiri) berpelukan dengan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman usai menyampaikan hasil pertemuan tertutup kedua partai di DPP PKS, Jakarta, Rabu (30/10/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pertemuan elite Partai Nasdem dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) diyakini dapat meredakan ketegangan di tingkat akar rumput akibat residu politik kontestasi Pilpres 2019.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting (Voxpol) Pangi Syarwi Chaniago menilai kader dan simpatisan membutuhkan contoh langsung dari para elite bagaimana bersikap pasca-kompetisi.

Menurut dia kedewasaan berpolitik harus diaplikasikan dan persatuan bangsa mesti tetap diutamakan.

“Silaturahmi elite politik sudah semestinya dilakukan untuk mencegah terjadinya kebuntuan politik dan menunjukkan kedewasaan dalam berpolitik,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (1/11/2019).

Pangi mengingatkan kepada elite politik untuk tidak lelah mengedukasi masyarakat. Pilpres 2019, kata dia, bukan pertarungan hidup-mati, sehingga keterbelahan tidak boleh mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa.

Menurut Pangi, Prabowo Subianto dan Joko Widodo telah menunjukkan tradisi sportivitas dalam berpolitik ketika menerima hasil Pilpres 2019. Keduanya tahu kapan berkompetisi dan tahu saatnya untuk bersatu.

“Dalam persfektif ini pertemuan elite politik [Nasdem dan PKS] justru menjadi hal yang lumrah dan wajar-wajar saja,” ujarnya.

Pada Rabu (30/10/2019), Ketua Umum DPP Nasdem Surya Paloh mengunjungi DPP PKS dan disambut hangat oleh Presiden PKS Sohibul Iman.

Kedua partai tersebut menyatakan tetap berkolaborasi kendati tidak berada dalam barisan partai politik pendukung pemerintah. Dalam keterangannya Sohibul Iman mengingatkan bahwa perbedaan pilihan politik seharusnya tidak menghambat sinergi dalam membangun bangsa.

Dia mencontohkan kolaborasi bisa dilakukan Nasdem dan PKS meski berbeda pilihan politik.

“Nasdem di dalam pemerintahan, kami di luar pemerintahan. Itu tidak menyebabkan kami bermusuhan dan saling menjatuhkan, tapi kami bisa bersinergi di dalam maupun di luar pemerintah,” katanya.

Sohibul mengatakan pertemuan tersebut dalam rangka ikhtiar sesama partai politik untuk bisa membangun demokrasi yang lebih baik dan sehat.

Belakangan ini, kata bekas Wakil Ketua DPR tersebut, dengan mudahnya dua kubu berbeda dituduh bermusuhan.

“Kami harapkan perbedaan pilihan politik ini menjadi sumbangan dari kedua partai ini sebagai pendidikan politik Indonesia. Semoga hal yang sama bisa diikuti oleh partai lainnya,” ucapnya.

Ketua Umum Nasdem Surya Paloh juga bersepakat dengan Sohibul. Menurut dia, demokrasi memerlukan mekanisme saling mengawasi dan mengimbangi berjalan dengan baik.

“Demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang membutuhkan checks and balances. Kedua, pemerintah yang sehat adalah pemerintah yang bisa menerima pemikiran-pemikiran yang mengkritisi," tuturnya.

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo tidak memasukkan kader PKS dalam Kabinet Indonesia Maju. Alhasil, PKS menjadi kekuatan oposisi di DPR.

Sebaliknya, Nasdem mendapatkan jatah tiga kursi menteri. Mereka adalah Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, serta Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Jokowi, pks, nasdem

Editor : Nancy Junita
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top