Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi Inggris Diprediksi Menyusut 3,5 Persen dengan Kesepakatan Brexit Johnson

Laporan yang dirilis pada Rabu (30/10/2019), itu menyebutkan bahwa kekacauan yang disebabkan Brexit telah mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 30 Oktober 2019  |  12:28 WIB
Ilustrasi brexit - Reuters
Ilustrasi brexit - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Menurut Institut Nasional Penelitian Ekonomi dan Sosial (Niesr), kesepakatan Brexit Perdana Menteri Boris Johnson berpotensi menyusutkan ekonomi Inggris 3,5% setiap tahun dan pembuat kebijakan di Bank Sentral Inggris (BOE) harus mulai memikirkan tentang opsi penurunan suku bunga.

Laporan yang dirilis pada Rabu (30/10/2019), itu menyebutkan bahwa kekacauan yang disebabkan Brexit telah mengorbankan pertumbuhan ekonomi.

Jika Inggris terus berada di jalur ketidakpastian dan aturan perdagangan dengan Uni Eropa tidak berubah, maka ekonomi akan mengalami kerugian output 2%.

"Ekonomi Inggris akan mengalami penderitaan yang lambat dan merusak. Tidak ada letupan, tidak ada ledakan, tetapi tusukan lambat, karena investasi yang terhambat dalam menghadapi ketidakpastian," kata Direktur Niesr, Jagjit Chadha, dikutip melalui Bloomberg, Rabu (30/10/2019).

Riset Niesr dilakukan dengan skenario jika Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa.

Kesepakatan Brexit PM Johnson dinilai akan membuat semua kawasan di Inggris menjadi lebih miskin selama satu dekade ke depan dan berpotensi memangkas pendapatan pajak sebesar 2,5%.

Laporan dari think-tank itu juga menyoroti Kementerian Keuangan Inggris dengan kebijakan fiskal yang kacau dan kurangnya strategi yang mapan.

Di saat Parlemen Inggris masih dihadapi dengan kebuntuan atas Brexit, Menteri Keuangan Sajid David pekan lalu membatalkan rencana untuk merilis angka anggaran pemerintahan yang seharusnya dilaksanakan pada 6 November.

Pengawas keuangan Inggris memperkirakan pemerintah akan mempublikasikan prakiraan ekonomi baru, berdasarkan asumsi bahwa Inggris meninggalkan Uni Eropa dengan kesepakatan.

Menurut seorang ekonom di Niesr, Arno Hantzsche, bersamaan dengan ini risiko penurunan, kebutuhan akan penurunan suku bunga acuan BOE meningkat.

Dia mengutip inflasi berada di bawah target 2%, pound menguat, sedangkan risiko penurunan yang berasal dari ekonomi global dan risiko no-deal Brexit telah surut.

"Namun, para pembuat kebijakan cenderung menunggu sampai Maret sebelum membuat langkah seperti itu [pelonggaran]," katanya.

BOE diagendakan untuk mengumumkan keputusan kebijakan terbarunya dan mempublikasikan perkiraan baru tentang pertumbuhan dan inflasi pada 7 November 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Brexit
Editor : Achmad Aris
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top