Gencatan Senjata Dilakukan, SDF Menarik Diri Dari Ras al Ain

Ras al Ain adalah salah satu dari dua kota di perbatasan Turki-Suriah yang menjadi sasaran utama serangan Turki untuk mengusir kembali para pejuang Kurdi dan menciptakan "zona aman" jauh lebih dalam 30 km (sekitar 20 mil) di dalam wilayah Suriah.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 21 Oktober 2019  |  08:10 WIB
Gencatan Senjata Dilakukan, SDF Menarik Diri Dari Ras al Ain
Pejuang Pasukan Demokratik Suriah (SDF) terlihat di Deir al-Zor, Suriah 1 Mei 2018. - REUTERS/Rodi Said

Bisnis.com, JAKARTA – Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin Kurdi menyatakan telah menarik diri dari kota perbatasan Ras al Ain di bawah kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS, tetapi juru bicara pemberontak Suriah yang didukung Turki mengatakan penarikan itu belum dilakukan sepenuhnya.

Ras al Ain adalah salah satu dari dua kota di perbatasan Turki-Suriah yang menjadi sasaran utama serangan Turki untuk mengusir kembali para pejuang Kurdi dan menciptakan "zona aman" jauh lebih dalam 30 km (sekitar 20 mil) di dalam wilayah Suriah.

Turki menghentikan serangan pada Kamis malam untuk masa lima hari di bawah kesepakatan yang disepakati antara Presiden Tayyip Erdogan dan Wakil Presiden AS Mike Pence. Erdogan telah memperingatkan bahwa Turki akan melanjutkan serangan ketika batas waktu berakhir pada Selasa besok jika SDF tidak mundur dari daerah zona aman.

“Kami tidak memiliki pejuang lagi di kota,” kata juru bicara SDF, Kino Gabriel, merujuk pada Ras al Ain seperti dikutip Reuters, Senin (21/10).

Komentarnya muncul setelah Ankara mengatakan puluhan kendaraan telah masuk dan meninggalkan Ras al Ain. Sebagian besar kendaraan itu dikelilingi oleh pasukan Turki dan sekutu pemberontak Suriah mereka selama akhir pekan.

Juru bicara pemberontak Mayor Youssef Hamoud mengatakan kepada Reuters bahwa SDF “belum sepenuhnya” keluar dari Ras al Ain.

Turki melancarkan serangannya setelah Presiden Donald Trump mengumumkan menarik pasukan AS dari Suriah timur laut. Langkahnya dikritik di Washington dan di tempat lain sebagai pengkhianatan sekutu Kurdi yang telah berperang selama bertahun-tahun bersama pasukan AS melawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Ankara berusaha untuk membuat zona aman sebagai penyangga karena menganggap YPG, komponen utama SDF, sebagai kelompok teroris karena kaitannya dengan pemberontak Kurdi di Turki tenggara. Sedangkan YPG menjadi sekutu dekat AS dalam perang melawan ISIS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
suriah

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top