Pembangunan 892 Huntap Warga Terdampak Sinabung Dianggarkan Rp162 Miliar

Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membangun 892 unit hunian tetap (huntap) dengan total biaya Rp162 miliar untuk warga terdampak erupsi gunung Sinabung.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 19 Oktober 2019  |  12:05 WIB
Pembangunan 892 Huntap Warga Terdampak Sinabung Dianggarkan Rp162 Miliar
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen (TNI) Doni Monardo - ANTARA/Indrianto Eko Suwarso

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah Pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan membangun 892 unit hunian tetap (huntap) dengan total biaya Rp162 miliar bagi warga yang terkena dampak musibah erupsi Gunung Sinabung.

Agus Wibowo, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Bencana BNPB mengatakan bahwa anggaran pembangunan tersebut berasal dari dana hibah rehabilitasi dan rekonstruksi tahun anggaran 2018.

"Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan rumah, infrastruktur dasar seperti plumbing atau sanitasi dan jaringan air, penerangan dan jalan," ujarnya seperti keterangan yang dikutip Bisnis,  Sabtu (19/10/2019).

Sedangkan untuk lahan, lanjut dia, Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara masih melakukan proses pematangan lahan sejumlah 1.022 petak.

Seperti diketahui bahwa warga masyarakat yang berasal dari beberapa desa di lereng Gunung Sinabung harus direlokasi karena aktivitas vulkanik dari anak dari Gunung Danau Toba itu tak kunjung henti sejak 2010 lalu.

Proses peletakan batu pertama untuk pembangunan hunian tetap (huntap) tahap ketiga di tanah relokasi itu telah dilakukan oleh Kepala BNPB Jenderal TNI Doni Monardo dan Gubernur Provinsi Sumatera Utara Edy Rahmayadi, Jumat (18/10/2019).

Selain itu, pemerintah juga memberikan bantuan berupa 30 alat pengupas dan pengolahan kopi dari BNPB, 1 alat dari Kementerian Pertanian dan 40 alat dari Badan Usaha.

Menurut Doni, pemberian bantuan itu sekaligus sebagai upaya BNPB dalam peningkatan kesejahteraan ekonomi masyarakat pada tahap rehabilitasi dan rekonstruksi dan pemulihan ekonomi.

Pasalnya, masyarakat Karo telah lama hidup berdampingan dengan kopi. Kopi Karo sendiri sudah menjadi komoditi perkebunan yang penting untuk meningkatkan perekonomian masyarakat yang hidup di Kabupaten Karo.

Kopi yang dibudidayakan oleh salah satu suku yang mendiami dataran tinggi di Sumatera Utara itu berjenis Arabika. Doni pun beharap agar kualitas Kopi Karo bisa bersaing dan memiliki nilai setara minuman anggur di Eropa.

Jenderal yang sukses mempelopori 'Citarum Harum' itu sangat optimis dan mendukung penuh upaya peningkatan perekonomian masyarakat yang menjunjung tinggi kearifan lokal, seperti yang sudah dilakukan warga Karo melalui kopi.

"Kopi Karo harus bisa setara dengan segelas wine," kata mantan Komandan Jenderal Pasukan Pengaman Presiden [Paspampres] era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu.

Pihaknya juga mengharapkan agar potensi yang dimiliki Karo seisinya bisa mendongkrak perekonomian masyarakat melalui pariwisata, sebagaimana yang telah menjadi program pemerintah dalam rangka menciptakan 10 Bali Baru di mana salah satunya adalah Kawasan Danau Toba dan sekitarnya.

Ke depannya, tanah surga yang indah dan didiami oleh orang-orang yang terdampak bencana itu diharapkan menjadi tanah kehidupan dengan masyarakatnya yang bangkit dan lebih baik lagi dalam menyongsong hari esok.

"Kita harus tiru semangat Sisingamangaraja. Hal itu harus dimiliki oleh masyarakat Karo. Selalu ada asa di balik bencana," tutup Doni.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gunung sinabung, bnpb

Editor : Akhirul Anwar
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top