Rusia Pertanyakan Penggunaan Bahasa 'Tidak Biasa' Dalam Surat Trump untuk Erdogan

Penggunaan bahasa dalam surat yang berisi peringatan Trump atas invasi Turki ke Suriah itu dinilai sangat tidak biasa untuk korespondensi antara kepala negara.
Denis Riantiza Meilanova
Denis Riantiza Meilanova - Bisnis.com 17 Oktober 2019  |  18:47 WIB
Rusia Pertanyakan Penggunaan Bahasa 'Tidak Biasa' Dalam Surat Trump untuk Erdogan
Presiden AS Donald Trump. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA--Kantor Kepresidenan Rusia mempertanyakan penggunaan bahasa tidak biasa dalam surat yang dikirim oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Presiden Turki Tayyip Erdogan.

Penggunaan bahasa dalam surat yang berisi peringatan Trump atas invasi Turki ke Suriah itu dinilai sangat tidak biasa untuk korespondensi antara kepala negara.

Trump memperingatkan Presiden Turki Tayyip Erdogan dalam sepucuk surat tentang serangan Turki ke Suriah, "Jangan menjadi pria yang keras" dan "Jangan menjadi orang bodoh!" demikian ujaran Trump kepada Erdogan.

"Anda tidak sering menemukan bahasa seperti itu dalam korespondensi antara kepala negara. Itu adalah surat yang sangat tidak biasa, " ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada wartawan, dikutip dari Reuters, Kamis (17/10/2019).

Adapun AS tengah berupaya keras agar Turki menghentikan serangannya ke Suriah Utara, tempat kelompok Kurdi pro-AS berada. Keputusan AS untuk menarik pasukannya dari Suriah dinilai membuka jalan bagi serangan Turki terhadap Kurdi.

Dalam upaya membujuk Erdogan agar membatalkan keputusannya menyerbu Suriah, Trump menulis surat kepada Erdogan. Surat bertanggal 9 Oktober itu kemudian dirilis oleh Gedung Putih pada Rabu (16/10).

Sementara itu, Rusia menyatakan keprihatinannya dengan situasi kemanusiaan di Suriah utara akbiat operasi militer Turki di wilayah tersebut.

Peskov mengatakan bahwa Rusia khawatir khususnya tentang situasi pengungsi.

"Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tayyip Erdogan akan membahas tindakan Turki di Suriah pada pertemuan di resor Sochi di Laut Hitam pada Selasa pekan depan," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
rusia, erdogan, Donald Trump

Editor : Andhika Anggoro Wening
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top