Wiranto Ditusuk, Kewaspadaan dan Reaksi Cepat Personel Perlu Ditingkatkan 

Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto ditusuk saat melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten. Menteri terkena dua sayatan di sekitar perut dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. 
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 10 Oktober 2019  |  19:29 WIB
Wiranto Ditusuk, Kewaspadaan dan Reaksi Cepat Personel Perlu Ditingkatkan 
Menko Polhukam Wiranto (tengah) memberi keterangan pers usai meresmikan ruang kuliah bersama Universitas Matlaul Anwar di Pandeglang, sebelum ditusuk pasangan suami istri SA dan FA sesaat turun dari mobil dan akan menuju helipad, di Menes, Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019). Wiranto menderita luka dua tusukan di bagian perut. Polisi mengamankan dua tersangka yang diduga terpapar jaringan radikal. - Antara/Weli Ayu Rejeki

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto ditusuk saat melakukan kunjungan kerja di Pandeglang, Banten. Menteri terkena dua sayatan di sekitar perut dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. 

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi mengatakan bahwa secara prosedur pengamanan tidak ada masalah. 

“Jika dianggap pelemahan, pertama kewaspadaan di lapangan dari personel di lapangan. Kemudian soal kemampuan reaksi cepat dari personel pengamanan yang melekat di sekeliling Wiranto. Itu ke depan yang sekiranya perlu dievaluasi untuk pejabat negara,” katanya saat dihubungi, Kamis (10/10/2019).

Khairul menjelaskan bahwa tingkat kewaspadaan ini tergantung pada faktor individu itu sendiri. Reaksi cepat dalam kondisi apapun membuat keamanan pejabat negara dipertaruhkan.

Banyak orang sering kali luput dengan hal-hal kecil dan sederhana. Saat bicara pengamanan, selalu yang difokuskan bom atau penembakan.

Padahal, Khairul menambahkan bahwa obeng bisa menjadi senjata. Artinya, serangan dalam bentuk apapun bisa saja terjadi. Ini cenderung sulit diprediksi sehingga tingkat kesulitannya sangat tinggi.

“Jadi kalau mau dievaluasi, SDM-nya yang harus ditingkatkan. Lebih selektif lagi memilih personel yang melekat pada pejabat lembaga negara supaya tidak terjadi lagi,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
militer, wiranto

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top