Demo Hong Kong: Mahathir Mohamad Sarankan Carrie Lam Mundur

Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan bahwa pemimpin Hong Kong Carrie Lam harus mundur menyusul protes berbulan-bulan terhadap pemerintahnya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  14:56 WIB
Demo Hong Kong: Mahathir Mohamad Sarankan Carrie Lam Mundur
Seorang pemrotes anti-pemerintah melempar bom molotov di depan Kantor Pusat Regional Wilayah Selatan Baru, setelah polisi menembak seorang demonstran saat protes Hari Nasional China, di Hong Kong, China 2 Oktober 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad mengatakan bahwa pemimpin Hong Kong Carrie Lam harus mundur menyusul protes berbulan-bulan terhadap pemerintahnya.

Mahathir juga memperkirakan China akan mengambil tindakan untuk mengakhiri aksi demonstrasi berkepanjangan tersebut.

Dilansir Reuters, tumbuhnya penentangan terhadap pemerintah Hong Kong telah menjerumuskan pusat keuangan tersebut ke dalam krisis politik terbesarnya dalam beberapa dasawarsa terakhir dan menjadi tantangan besar bagi Presiden China Xi Jinping sejak ia berkuasa pada 2012.

Berbicara di sebuah konferensi di Kuala Lumpur pada Jumat (4/10/2019), Mahathir mengatakan Lam harus mematuhi para tuan dan pada saat yang sama dia harus memenuhi hati nuraninya.

"Saya pikir yang terbaik adalah mengundurkan diri," kata Mahathir, seperti dikutip Reuters.

Mahathir juga mengatakan dia mengharapkan China untuk mengambil tindakan terhadap para demonstran, yang secara paralel mirip dengan aksi protes mahasiswa di Lapangan Tiananmen pada tahun 1989.

"Ya, mereka mengizinkan Anda untuk menunjukkan dan semua itu tetapi akhirnya dalam sistem yang otoriter mereka akan kembali dan melakukan apa yang harus mereka lakukan," katanya.

Demonstrasi di Hong Kong dimulai atas RUU ekstradisi yang sekarang dibatalkan, yang akan memungkinkan orang dikirim ke daratan China untuk diadili, dan telah meningkat pesat sejak Juni. Aksi demonstrasi juga telah berkembang menjadi seruan untuk demokrasi yang lebih luas, di antara tuntutan lainnya.

Demonstran marah pada apa yang mereka lihat sebagai campur tangan Beijing dalam urusan Hong Kong meskipun ada janji otonomi dalam formula "satu negara, dua sistem" saat Hong Kong kembali ke Cina pada tahun 1997.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hong kong, mahathir mohamad

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top