Mahasiswa Ancam Demo Lagi, Moeldoko : Presiden Mendengarkan

Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko memastikan Presiden Joko Widodo mendengarkan semua aspirasi dan tuntutan mahasiswa.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 04 Oktober 2019  |  13:47 WIB
Mahasiswa Ancam Demo Lagi, Moeldoko : Presiden Mendengarkan
Presiden Joko Widodo (tengah) didampingi Kepala Staf Kepresiden Moeldoko (kiri) dan Mensesneg Pratikno (kanan) berjalan meninggalkan ruangan usai menyampaikan keterangan terkait revisi UU KPK di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/9/2019). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko memastikan Presiden Joko Widodo mendengarkan semua aspirasi dan tuntutan mahasiswa.

Hal tersebut dikemukakannya karena Presiden Jokowi dan dirinya selalu membuka diri dengan semua kalangan masyarakat, termasuk mengundang masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya ke KSP atau bertemu langsung dengan Presiden.

"Saya juga memberikan pemahaman bahwa dalam bernegara ini bukan hanya mahasiswa saja yang didengar, semuanya juga didengar oleh Presiden. Itulah Presiden juga membuka pintu istana seluas-luasnya, semuanya didengarkan dengan baik," katanya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jumat (4/10/2019).

Perihal sejumlah tuntutan yang disuarakan mahasiswa dan ancaman untuk kembali turun ke jalan, Moeldoko menyebutkan semua usulan itu akan dikalkulasi. Dia meyakinkan pada dasarnya Presiden Jokowi juga menginginkan yang lebih baik untuk Indonesia.

"Karena keputusan itu seperti simalakama, gak dimakan bawa mati, dimakan ikut mati, kan begitu, cirinya memang begitu. Jadi memang tidak ada keputusan yang bisa memuaskan semua pihak," tegasnya.

Sebelumnya, Moeldoko bertemu dengan sejumlah mahasiswa dari Universitas Tarumanegara, Universitas Bakrie, Universitas Paramadina, Trisakti school Management, Institut Transportasi Logistik Trisakti, UniversitasTrisakti, dan Universitas Krida Wacana pada Kamis (4/10/2019) di KSP.

Dino Ardiansyah, Presiden Mahasiswa Trisakti, mengungkapkan mahasiswa juga mencoba membuka dialog dengan pemerintah untuk meluruskan kembali gerakan mahasiswa.

"Sesuai konsolidasi 22 September bersama kawan-kawan lainnya, kita tetap mneyampaikan tujuh tuntutan tuntaskan reformasi. Ditambah kita desak negara untuk segera menindaklanjuti kawan-kawan kita yang ditahan polisi agar segera dibebaskan," tekannya.

Dia juga menuntut pemerintah dan negara untuk mengusut tuntas pelaku yang tidak bertanggungjawab sehingga mengakibatkan mahasiswa meninggal di di Universitas Halu Oleo.

Jika sampai 14 Oktober 2019 pemerintah tidak merespons tuntutan para mahasiswa, ia memastikan bahwa mahasiswa akan turun ke jalan dengan jumlah yang lebih besar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
demonstrasi

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top