Sastra Indonesia Dituntut Adaptif terhadap Perkembangan Zaman

Kesusastraan Indonesia terus berkembang. Spirit itulah yang terus digaungkan dalam acara Ceramah Literasi dan Seminar Sastra yang digelar di Amarta Ballroom Hotel Melia Purosani, Jogja, Sabtu (28/9/2019).
Rofik Syarif G.P
Rofik Syarif G.P - Bisnis.com 28 September 2019  |  23:50 WIB
Sastra Indonesia Dituntut Adaptif terhadap Perkembangan Zaman
Sastrawan Eka Kurniawan (kanan) berbicara dalam acara Ceramah Literasi dan Seminar Sastra Joglitfest 2019 yang digelar di Amarta Ballroom Hotel Melia Purosani, Jogja, Sabtu (28/9/2019). - Rofik Syarif G.P

Bisnis.com, JOGJA -Kesusastraan Indonesia terus berkembang. Spirit itulah yang terus digaungkan dalam acara Ceramah Literasi dan Seminar Sastra yang digelar di Amarta Ballroom Hotel Melia Purosani, Jogja, Sabtu (28/9/2019).

Dalam kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian acara puncak Jogja Literature Festival (Joglitfest) atau Festival Sastra Yogyakarta tersebut, sejumlah pembicara dari kalangan birokrat, akademisi, dan praktisi, dihadirkan. Di antaranya adalah sastrawan Eka Kurniawan, Guru Besar UNY Suminto A. Sayuti, Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah Tirto Suwondo, dan Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sri Hartini yang bertindak sebagai keynote speaker.

“Saat ini sastra Indonesia berkembang cukup pesat. Namun jangan sampai hal itu bikin tutup mata dengan perkembangan zaman. Semua harus bisa adaptif dengan perkembangan komunikasi dan teknologi, termasuk sastra,” kata Sri Hartini, Sabtu (28/9/2019).

Untuk meningkatkan kesusastraan di Indonesia, kata dia, banyak hal yang bisa dilakukan. Di antaranya adalah sinergitas pemerintah, sastrawan dan komunitas-komunitas sastra untuk membangun ekosistem sastra yang kondusif. “Salah satu contohnya adalah melalui kegiatan Joglitfest ini,” ucap dia.

Senada, sastrawan Eka Kurniawan mengapresiasi gelaran Joglitfest. Menurut dia acara yang kali pertama digelar di Jogja tersebut menjadi ajang berkumpulnya penulis sastra dari beberapa daerah di Indonesia.

Dalam seminar itu, penulis novel Cantik Itu Luka tersebut juga menyinggung soal kelayakan Jogja sebagai lokasi digelarnya Joglitgest. Menurut dia, dalam tingkatan tertentu, kehidupan kesusastraan di Jogja mampu melampaui kota-kota lain, termasuk Jakarta.

“Hal ini didukung oleh iklim perbukuan, lingkungan universitas dan tradisi kebudayaan yang panjang di mana hubungan jejaring dengan dunia intelektual dan kesenian, cukup erat,” kata Eka.

Alfrida Yamanop, perwakilan peserta dari Komunitas Jayapura juga menyampaikan bahwa Ia sangat senang bisa diundang di acara Joglifest ini. “Ini sebagai bukti bahwa ada perhatian untuk para penulis di Papua,” ucap dia.

Alfrida menambahkan acara seminar ini sebagai tempat berkumpul para sastrawan, untuk membahas isu-isu yang terbaru dalam pengembagan literasi. “Seminar ini sangat penting terutama bagi wilayah timur, dalam membantu perkembangan kebudayaan dan sumber daya manusia di Papua,” ujar dia. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sastra Indonesia

Sumber : harianjogja.com

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top