LAPORAN DARI TAIWAN : Solomon dan Kiribati Lepas, Taipei Pertahankan Status Quo

Ming-Chi Chen, Deputy Minister, Mainland Affairs Council Taiwan mengatakan bahwa Kiribati dan Solomon memutus hubungan diplomatiknya karena pengaruh tekanan dari China.
Akhirul Anwar
Akhirul Anwar - Bisnis.com 25 September 2019  |  05:02 WIB
LAPORAN DARI TAIWAN : Solomon dan Kiribati Lepas, Taipei Pertahankan Status Quo
Ming-Chi Chen, Deputy Minister Mainland Affairs Council Taiwan - Bisnis/Akhirul Anwar

Bisnis.com, TAIPEI - Taiwan memutuskan hubungan diplomatik dengan Kiribati, negara di kepulauan Pasifik pada Jumat 20 September 2019 lalu di tengah tekanan China yang tidak menghendaki Taipei punya urusan diplomatik sendiri.

Belum lama ini, Taiwan juga memutuskan hubungan diplomatik dengan negara Kepulauan Solomon di pasifik. Solomon kemudian melakukan kerja sama dengan China karena dijanjikan lebih banyak dana ketimbang Taiwan.

Dengan lepasnya dua negara tersebut berarti dalam waktu yang berdekatan ada dua negara memutuskan hubungan resmi dengan Taiwan.

Kiribati merupakan negara ketujuh yang menghentikan hubungan diplomatik dengan Taiwan sejak Presiden Tsai Ing-wen berkuasa pada 2016 menyusul Burkina Faso, the Dominican Republic, Sao Tome and Principe, Panama, El Salvador dan Solomon Island. Taiwan saat ini tinggal memiliki hubungan diplomatik dengan 15 negara di dunia.

Ming-Chi Chen, Deputy Minister, Mainland Affairs Council Taiwan mengatakan bahwa Kiribati dan Solomon memutus hubungan diplomatiknya karena pengaruh tekanan dari China.

“China tidak ingin kami memiliki hubungan diplomatik sendiri. Mereka menawarkan kepada kami menjadi satu negara dua sistem seperti Hong Kong. Hal ini sudah populer di kalangan masyarakat Taiwan,” katanya kepada sejumlah jurnalis Asia-Pasific di Taipei, Senin (23/9/2019).

Tidak hanya sampai di situ, China saat ini juga tidak memberikan ruang di internasional kepada Taiwan menjadi anggota organisasi seperti International Civil Aviation Association (ICAO) dan Texas Cybersecurity. Padahal, menurut Chen, Taiwan merupakan negara tersendiri dengan sistem pemerintahan demokrasi yang memiliki lebih dari 200 partai politik. Berbeda dengan China yang hanya satu partai Komunis.

Meski demikian, masyarakat Taiwan tidak peduli dengan tekanan yang sedang dilakukan China. Pemerintah saat ini hanya ingin menjaga status quo tetap bertahan seperti ini.

Ming-Chi Chen menambahkan Keberlangsunngan dibutuhkan untuk menjaga status quo. Taiwan memiliki anggaran pertahanan nasional 1 persen - 2 persen dari GDP dan disupport oleh Amerika Serikat.

Dia menyadari gagasan masa depan untuk merdeka dalam arti lepas dari tekanan China akan sulit. Perlu terobosan besar agar Taiwan benar-benar menjadi negara tanpa pengaruh saudara tua, China.

"Kami menikmati dengan situasi seperti ini, dengan pertahanan militer kami, konstitusi kami," ujarnya.

Warga Taiwan juga sadar dengan status ini. Mereka menganggap bahwa hubungan antara Taiwan dan China seolah bermusuhan. Namun hubungan antara penduduknya cukup baik. Begitu juga dengan perdagangan 41 persen ekspor Taiwan ke China.

Ketika ditanya apakah akan ada komunikasi tingkat tinggi antara Taiwan dan China, Chen dengan tegas mengatakan tidak mungkin terjadi.

Pertemuan level tinggi hanya terjadi pada setingkat Wali Kota, itupun hanya dalam koridor hubungan antar kota. "Wali Kota Taipei lima bulan lalu melakukan pertamuan dalam rangka forum Taipei-Shanghai," kata Chen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
taiwan

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top