Begini Siasat Rizal Djalil Incar Suap Proyek SPAM Kementerian PUPR

Mantan politikus PAN itu diduga menerima suap sebesar SG$100 ribu dari Komisaris Utama PT Minarta Dutahutama, Leonardo Jusminarta Prasetyo, yang juga jadi tersangka KPK.
Ilham Budhiman
Ilham Budhiman - Bisnis.com 25 September 2019  |  19:05 WIB
Begini Siasat Rizal Djalil Incar Suap Proyek SPAM Kementerian PUPR
Wakil Ketua KPK Saut Situmorang. - Antara/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA - Anggota IV Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Rizal Djalil ditetapkan sebagai tersangka dugaan suap terkait Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kementerian PUPR.

Mantan politikus PAN itu diduga menerima suap sebesar SG$100 ribu dari Komisaris Utama PT Minarta Dutahutama, Leonardo Jusminarta Prasetyo, yang juga jadi tersangka KPK.

Rizal diduga menerima suap lantaran membantu perusahaan Leonardo untuk mendapat proyek di Kementerian PUPR.

Penetapan tersangka Rizal berdasarkan pengembangan kasus proyek SPAM yang sebelumnya telah menyeret delapan orang baik pihak swasta dan pejabat PUPR dan telah dieksekusi ke penjara berbeda.

Dalam kasus ini, ada akal-akalan Rizal Djalil yang mengincar proyek di Kementerian PUPR untuk dikerjakan perusahaan Leonardo.

Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan mulanya  pada Oktober 2016  BPK RI melakukan pemeriksaan pada Direktorat SPAM Kementerian PUPR sebagaimana tertuang dalam Surat Tugas BPK RI tertanggal 21 Oktober 2016. 

Surat tersebut ditandatangani oleh tersangka Rizal Djalil dalam kapasitas sebagai Anggota IV BPK-RI saat itu.

Adapun surat tugas adalah untuk melaksanakan Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu atas Pengelolaan Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi Air Limbah pada Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PUPR dan Instansi Terkait Tahun 2014, 2015 dan 2016 di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat dan Jambi.

Saut mengatakan, awalnya diduga temuan dari pemeriksaan tersebut adalah sebesar Rp18 miliar namun kemudian berubah menjadi sekitar Rp4,2 miliar. Rizal pun diduga meminta uang atas hasil audit itu.

"Sebelumnya, Direktur SPAM mendapatkan pesan adanya permintaan uang terkait pemeriksaan yang dilakukan oleh BPK RI tersebut, yaitu sebesar Rp2,3 miliar," kata Saut dalam konferensi pers, Rabu.

Menurut Saut, tersangka Rijal juga diduga pernah memanggil Direktur SPAM ke kantornya, kemudian menyampaikan akan ada pihak yang mewakilinya untuk bertemu dengan Direktur SPAM. 

Pada suatu pertemuan, perwakilan Rizal Djalil datang ke Direktur SPAM dan menyampaikan ingin ikut serta dalam pelaksanaan/kegiatan proyek di lingkungan Direktorat SPAM. 

Saut mengatakan bahwa proyek yang diminati adalah proyek SPAM Jaringan Distribusi Utama (JDU) Hongaria dengan pagu anggaran Rp79,27 miliar.

Kemudian, proyek SPAM JDU Hongaria tersebut pada akhirnya dikerjakan oleh PT Minarta Dutahutama.

Perkenalan antara Leonardo dan Rizal Djalil sendiri terjadi di Bali pada medio 2015-2016 melalui seorang perantara. Saat itu, Leonardo memperkenalkan diri sebagai kontraktor proyek di Kementerian PUPR. 

"Melalui seorang perantara, LJP [Leonardo Jusminarta Prasetyo] menyampaikan akan menyerahkan uang Rp1,3 miliar dalam bentuk dolar Singapura untuk RIZ [Rizal Djalil] melalui pihak lain," kata Saut.

Namun, uang tersebut pada akhirnya diserahkan kepada Rijal melalui salah satu pihak keluarga dengan jumlah SG$100 ribu dalam pecahan SG$1.000 atau 100 lembar di parkiran sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan.

Adapun perkara ini berawal dari OTT yang dilakukan KPK pada 28 Desember 2018 dan mengamankan uang senilai Rp3,3 miliar, SG$23.100, dan US$3.200 atau total sekitar Rp3,58 miliar, dan menetapkan delapan orang sebagai tersangka.

Saat ini, delapan orang itu telah dijebloskan ke penjara dengan hukuman yang bervariasi.

Mereka adalah Kepala Satuan Kerja (Kasatker) SPAM Strategis Lampung Anggiat Partunggul Nahat Simaremare, PPK SPAM Katulampa Meina Waro Kustinah, Kepala Satuan Kerja SPAM Darurat Teuku Moch. Nazar, dan PPK SPAM Toba 1 Donny Sofyan Arifin.

Kemudian, Direktur Utama PT Wijaya Kusuma Emindo (PT WKE) Budi Suharto, Direktur PT WKE Lily Sundarsih selaku istri dari Budi Suharto. Lalu, Direktur PT Tashida Sejahtera Perkasa (TSP) Iren Irma dan Direktur PT TSP Yuliana Enganita Dibyo.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
KPK

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top