#GejayanMemanggil tak Terkait Isu Khilafah

Aksi unjuk rasa dengan tagar Gejayan Memanggil dinilai tidak berkaitan dengan agenda khilafah. Hal itu terekam dalam pengamatan lembaga survei digital Drone Emprit yang memantau percakapan media sosial khususnya twitter mengenai isu-isu politik dan sosial yang menjadi trending topic para warga dunia maya.
MG Noviarizal Fernandez
MG Noviarizal Fernandez - Bisnis.com 23 September 2019  |  12:27 WIB

Bisnis.com, JAKARTA- Aksi unjuk rasa dengan tagar Gejayan Memanggil dinilai tidak berkaitan dengan agenda khilafah.

Hal itu terekam dalam pengamatan lembaga survei digital Drone Emprit yang memantau percakapan media sosial khususnya twitter mengenai isu-isu politik dan sosial yang menjadi trending topic para warga dunia maya.

Ismail Fakhmi, dari Drone Emprit mengatakan bahwa pihaknya sudah memonitor kata kunci 'khilafah' sejak lama dan sudah beberapa kali membuat analisis. Dengan melihat data seminggu terakhir, mereka kemudian membandingkan percakapan tentang 'khilafah' dengan tagar

#GejayanMemanggil. Tampak tren khilafah sudah tinggi sebelum munculnya tagar Gejayan baru naik beberapa hari belakangan ini.

“Meski isu khilafah sudah lama, namun dari volume seminggu terakhir cukup tinggi percakapannya. Tagar #GejayanMemanggil lebih tinggi, karena memang sedang ada gerakan dan trending. Namun biasanya tagar seperti ini tidak lama. Selain itu, cluster Gejayan muncul di luar pola percakapan pro dan antikhilafah,” tuturnya melalui akun twitter @ismailfahmi, Senin (23/9/2019).

Karena itu, lanjutnya, dari peta yang dianalisis, dapat dilihat dengan jelas, bahwa tagar #GejayanMemanggil ini tidak ada hubungannya dengan mereka yang selama ini memperjuangkan khilafah, yang sering bikin trending topik, dan yang antikhilafah, yang biasanya dari kelompok pro Pemerintah. Tagar ini menurutnya murni sebagai cluster baru.

“Mereka yang pro dan antikhilafah malah nampak sibuk sendiri dengan isu tersebut dan tidak berkaitan dengan tagar Gejayan. Dari data Drone Emprit, dapat disimpulkan bahwa gerakan #GejayanMemanggil ini dimotori oleh cluster baru dari mahasiswa, yang jauh dari core cluster baik yang pro apalagi yg kontra khilafah. ,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, ribuan mahasiswa di Yogyakarta pada Senin, menggelar aksi unjuk rasa dengan titik kumpul di kawasan Gejayan, Sleman. Aksi ini merupakan respon dari perkembangan situasi politik tanah air yang dianggap bakal kembali ke era Orde Baru menyusul rencana pengesahan beberapa rancangan undang-undang seperti KUHP, KPK dan lain sebagainya.

Daerah Gejayan merupakan salah satu kawasan bersejarah di era reformasi 1998 karena di lokasi ini pernah menjadi titik konsentrasi mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa, sebelum akhirnya terjadi gesekan dengan aparat keamanan sehingga menewaskan seorang mahasiswa bernama Mozes Gatotkaca. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan di kawasan Mrican.

Namun, kini Jalan Gejayan telah diubah nama menjadi Jalan Affandi sejak 20 Mei 2007. Namun, di peta Google Street Views edisi Juli 2018 masih terpasang  plang Jalan Gejayan dari ujung  selatan jalan tersebut. (lihat foto)  

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
demonstrasi

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top