Korea Utara Hadapi Musim Panen Terendah dalam 5 Tahun

Produksi tanaman pangan Korea Utara tahun ini diperkirakan akan turun ke level terendah dalam lima tahun menyusul musim kering dan irigasi yang buruk.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 20 September 2019  |  14:15 WIB
Korea Utara Hadapi Musim Panen Terendah dalam 5 Tahun
Bendera Korea Utara - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi tanaman pangan Korea Utara tahun ini diperkirakan akan turun ke level terendah dalam lima tahun menyusul musim kering dan irigasi yang buruk.

Dalam laporan Prospek Situasi Pangan triwulanan, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) PBB pada Kamis (19/9/2019) mengatakan panen tanaman utama yang buruk, termasuk beras dan jagung, menyebabkan 10,1 juta orang kekurangan makanan.

"Hujan di bawah rata-rata dan ketersediaan irigasi yang rendah antara pertengahan April dan pertengahan Juli, yang menjadi periode kritis untuk pengembangan tanaman, mempengaruhi musim utama tanaman padi dan jagung," kata FAO, seperti dikutip Reuters.

Laporan tersebut, yang mencakup pasokan dan permintaan sereal di seluruh dunia dan mengidentifikasi negara-negara yang membutuhkan bantuan pangan eksternal, tidak mengungkapkan perkiraan rinci produksi berdasarkan volume.

Korea Utara telah lama berjuang dengan kekurangan pangan dan sistem penjatahan negara yang disfungsional, dan media pemerintah dalam beberapa bulan terakhir memperingatkan kekeringan dan fenomena abnormal yang terus-menerus.

Kekurangan panen itu terjadi saat Koresel berupaya menahan penyebaran demam babi Afrika, menyusul konfirmasi kasus pertama di bulan Mei.

Penyakit yang berakibat fatal bagi babi meskipun tidak berbahaya bagi manusia itu telah menyebar ke Asia, termasuk Korea Selatan, setelah pertama kali terdeteksi di China tahun lalu, yang mengakibatkan pemusnahan besar-besaran dan mengurangi produksi daging babi.

Laporan FAO ini sejalan dengan penilaian PBB sebelumnya tahun ini bahwa produksi makanan Korut tahun lalu turun ke level terendah dalam lebih dari satu dekade di tengah gelombang panas yang berkepanjangan, ditambah dengan topan dan banjir.

Sementara itu, Korea Selatan telah berjanji untuk memberikan 50.000 ton bantuan beras kepada negara tetangganya melalui Program Pangan Dunia (WFP) PBB. Namun pengiriman bantuan tersebut tertundah oleh respons Pyongyang di tengah-tengah terhentinya dialog antar-Korea dan pembicaraan denuklirisasi dengan AS, ungkap pejabat Seoul.

Pada Juli, kantor berita resmi Korea Utara KCNA mengatakan kampanye untuk mengurangi dampak kekeringan sedang berlangsung dengan menggali kanal dan sumur, memasang pompa, dan menggunakan orang dan kendaraan untuk mengangkut air.

Tetapi Korea Utara mengatakan kepada PBB untuk memangkas jumlah stafnya yang mereka sebarkan di negara itu untuk program bantuan karena dicurigain terdapat politisasi dari bantuan PBB tersebut.

Kelaparan yang meluas umum terjadi di Korea Utara. Para pengamat mengatakan bencana kelaparan nasional yang parah pada 1990-an menewaskan sebanyak satu juta orang.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Korea Utara

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top