Kerusuhan Papua, Wiranto Tak Ragu Lemotkan Internet 

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan bahwa pemerintahan memperlambat akses internet untuk menjaga keamaman nasional.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  16:57 WIB
Kerusuhan Papua, Wiranto Tak Ragu Lemotkan Internet 
Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM (Menko Polhukam) Wiranto saat di gedung DPR Kamis 29 Agustus 2019. - Bisnis/Jaffry Prabu Prakoso

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah hingga saat ini masih memblokir internet di Papua karena kondisi di sana masih panas. Ini dilakukan demi mencegah tersebarnya informasi palsu.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan bahwa pemerintahan memperlambat akses internet untuk menjaga keamaman nasional.

“Kalau pemerintah bertindak itu bukan sewenang-wenang bukan melanggar hukum. Saya tak ragu-ragu untuk setiap saat me-lemot-kan medsos. Tapi kalau memang sudah membahayakan kepentingan nasional,” katanya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (29/8/2019).

Wiranto menjelaskan bahwa keputusan untuk memperlambat akses internet tidak akan dicabut hingga situasi Papua benar-benar aman.

“Ya gini, gini. Satu, viral salah satu penyebaran berita bohong, salah satu alat propaganda yang menyerang pemerintah itu lewat apa? Lewat medsos. Apa kita biarkan provokasi membakar-bakar masyarakat menyebarkan berita bohong lewat media sosial?” jelasnya.

Konflik Papua pecah karena viralnya pengusiran mahasiswa yang belajar di Surabaya dan Malang karena diduga menurunkan bendera merah putih.

Lalu, Rabu (28/8/2019) warga menggelar aksi yang menuntut agar Bupati Deiyai, Papua meneken isi referendum. Demonstrasi berakhir ricuh. Setidaknya seorang warga dan aparat meninggal dunia.

Polri mengungkapkan bahwa Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menunggangi aksi tersebut. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol. Dedi Prasetyo mengatakan bahwa saat Polri dan warga melakukan negosiasi, muncul ribuan orang yang diduga KKB.

Mereka datang dari segala arah dan mendadak menyerang anggota TNI dan Polri yang menjaga demonstrasi itu.

“Jadi saat proses negosiasi itu berlangsung, lalu muncul sekitar ribuan orang dari berbagai macam penjuru membawa senjata tajam berupa parang dan panah, kemudian langsung menyerang TNI-Polri yang berjaga,” katanya, Rabu (28/8/2019).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
papua, wiranto

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top