Penyelamat Ekonomi Dunia Bukan Bank Sentral

Para bankir yang mewakili bank sentral dunia berembuk pada pertemuan tahunan di Jackson Hole, Wyoming, Amerika Serikat, guna membahas kebijakan moneter global.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 26 Agustus 2019  |  11:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Para bankir yang mewakili bank sentral dunia berembuk pada pertemuan tahunan di Jackson Hole, Wyoming, Amerika Serikat, guna membahas kebijakan moneter global.

Diskusi mereka kali ini menitikberatkan pada tantangan yang dihadapi regulator saat menentukan langkah kebijakan moneter dengan latar belakang ketegangan ekonomi global yang makin meningkat.

Dalam sesi penutupan pertemuan tersebut, Gubernur Bank Sentral Australia Philip Lowe mengatakan bahwa bank sentral memiliki kemampuan yang terbatas untuk melindungi ekonomi global dari tantangan ketidakpastian politik yang semakin meningkat.

"Saat ini kita tengah mengalami periode guncangan politik yang besar dan berubah menjadi guncangan pada ekonomi," ujar Lowe, merujuk pada perkembangan isu seputar AS, Brexit, Hong Kong, dan negara lainnya, seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (25/8/2019).

Investasi infrastruktur dan reformasi struktural pada ekonomi di seluruh dunia dianggap memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada hanya bergantung pada memangkas suku bunga.

Namun para politisi enggan bertindak. Menurut Lowe, dengan ketidakserasian ini tantangan yang dihadapi bank sentral adalah kebijakan moneter pada akhirnya harus menanggung banyak beban.

Bagi Amerika Serikat, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa kondisi ekonomi di negeri Paman Sam masih berada pada posisi yang menguntungkan ketika dihadapi dengan risiko besar.

Pernyataan ini memperkuat sentimen pemotongan suku bunga acuan pada pertemuan FOMC selanjutnya pada Septermber, tetapi pesan Powell tidak diterima dengan baik oleh Presiden AS Donald Trump.

"Ketidakpastian kebijakan perdagangan tampaknya memainkan peran dalam perlambatan global dan lemahnya manufaktur dan belanja modal di Amerika Serikat," ungkap Powell, sesaat setelah China muncul dengan ancaman tambahan tarif pada impor AS senilai US$75 miliar.

Dia menegaskan bahwa bank sentral akan bergerak dengan cermat untuk menjaga laju pertumbuhan, tingkat penerimaan kerja serta inflasi yang terjaga pada kisaran target 2%.

Trump, yang telah berulang kali menyerukan The Fed untuk menurunkan suku bunga guna mendukung ekonomi selama perang dagangnya berlangsung, segera mengkritik pidato Powell dan mencerca cara kerja The Fed.

Adalah hal yang tidak biasa bagi pejabat Fed untuk memotong suku bunga di Jackson Hole, di luar pertemuan FOMC, kecuali ada tanda-tanda penurunan tajam atau kepanikan finansial.

Mengutip melambatnya pertumbuhan global dan inflasi yang teredam, The Fed memangkas suku bunga bulan lalu untuk pertama kalinya dalam lebih dari 1 dekade, sebesar seperempat basis poin menjadi 2% -2,25%.

Powell menggambarkan penurunan tarif pada saat itu sebagai penyesuaian di pertengahan siklus terhadap kebijakan serta menekankan bahwa langkah itu bukan awal dari serangkaian panjang pemotongan suku bunga.

Namun, dalam sambutannya pada Jumat (23/8/2019), bahasa Powell berubah soal kebijakan pemangkasan suku bunga dan menyebutnya sebagai peristiwa penting.

Bukan hanya bank sentral utama dari negara maju yang mencoba mencari tahu arah dari kebijakan moneter pada masa depan pada pertemuan di Jackson Hole. Pembuat kebijakan moneter di pasar negara berkembang juga sedang mempertimbangkan tantangan yang juga mereka hadapi.

Konferensi Sabtu (24/8/2019), berlangsung dengan sebuah makalah yang meneliti bagaimana para bankir bank sentral di ekonomi kecil dan terbuka menanggapi booming dan bust pada harga komoditas.

Fenomena tersebut menjadi lebih sering terjadi dalam beberapa dekade terakhir karena komoditas menjadi produk investasi yang lebih penting bagi manajer portofolio global.

Para penulis makalah, Thomas Drechsel dari University of Maryland dan Michael McLeay dan Silvana Tenreyro dari Bank Sentral Inggris, menguraikan bagaimana kenaikan harga komoditas global dapat menyebabkan ledakan keuangan di negara-negara pengekspor.

Thomas Drechsel dari University of Maryland dan Michael McLeay dan Silvana Tenreyro dari Bank of England - menguraikan bagaimana kenaikan harga komoditas global dapat menyebabkan ledakan keuangan di negara-negara pengekspor.

Menurut mereka, kontribusi yang terus meningkat dari guncangan harga komoditas pada siklus bisnis, peran dalam meredakan kendala pinjaman dan diskusi seputar finansialisasi pasar komoditas menjadikan semakin penting untuk memikirkan tentang peran potensial potensial perdagangan komoditas dalam menetapkan kebijakan moneter.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekonomi global

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top