Nasib Huawei sebagai Alat Tawar-Menawar Perang Dagang AS-China

Dalam sebuah catatan internal, pendiri Huawei Technologies Co. Ren Zhengfei memberikan peringatan bahwa saat ini perusahaan berada di antara hidup dan mati.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 20 Agustus 2019  |  17:03 WIB
Nasib Huawei sebagai Alat Tawar-Menawar Perang Dagang AS-China
Logo Huawei - REUTERS/Edgar Su

Bisnis.com, JAKARTA -- Dalam sebuah catatan internal, pendiri Huawei Technologies Co. Ren Zhengfei memberikan peringatan bahwa saat ini perusahaan berada di antara hidup dan mati.

Ren menyarankan karyawan yang kurang produkti untuk membentuk sebuah kelompok kerja dan mengeksplorasi proyek baru. Miliarder tersebut menyampaikan, pekerja yang gagal akan menerima sanksi potongan gaji setiap beberapa bulan dan mungkin kehilangan pekerjaan.

"Mereka dapat menemukan pekerjaan di lingkup internal. Jika mereka gagal menemukan inovasi, gaji mereka akan dipotong setiap 3 bulan," tulis Ren dalam catatannya, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (20/8/2019).

Huawei, perusahaan teknologi terbesar di China berdasarkan penjualan, berada di posisi sulit di tengah ketegangan yang makin memburuk dan disebut sebagai alat tawar-menawar dalam negosiasi perdagangan yang kompleks antara Washington dan Beijing.

Sebagai merek teknologi global yang mapan, langkah AS dengan memasukkan Huawei ke dalam daftar entitas telah membatasi kegiatan perdagangan dengan pemasok dari Amerika telah menempatkan perusahaan pada posisi yang tidak nyaman.

Meskipun Washington telah bermurah hati memberikan perpanjangan waktu hingga 90 hari, ketidakpastian yang berkepanjangan dari sanksi dagang telah mengorbankan tidak hanya Huawei tetapi juga menyeret perusahaan lainnya.

"Bahkan jika Huawei berhasil diselamatkan, dampak dari gejolak perang dagang di musim panas akan menyebar luas dan sangat merugikan," seperti dikutip melalui Bloomberg.

Kerugian langsung yang akan dirasakan Huawei adalah penurunan pasar smartphone internasionalnya.

Perkiraan internal perusahaan menunjukkan bahwa tahun ini penjualan smartphone kemungkinan berkurang sebanyak 60 juta unit akibat sanksi AS.

Menurut data IDC, pengiriman smartphone Huawei pada 2018 tumbuh 34% menjadi 206 juta unit dan terakselerasi 50% pada kuartal pertama 2019, padahal pada saat yang sama Apple dan Samsung menderita penurunan penjualan.

Memasuki kuartal kedua, pertumbuhan Huawei terpangkas 8,3% yang sebagian besar disebabkan oleh sanksi AS.

Setelah berhasil menembus pasar ponsel Eropa, Huawei berpotensi menjadi vendor ponsel terbesar di dunia, tetapi hilangnya akses untuk sistem Google Android, otak di dalam handset-nya, dan ekosistem aplikasi Play Store membuat perangkat Huawei menjadi tidak diminati di luar China.

Huawei secara tergesa-gesa merilis HarmonyOS bulan ini, hanya untuk menunjukkan bahwa mereka mampu membangun sistem operasi sendiri, meskipun hanya sebagian kecil orang yang yakin sistem ini dapat menjadi alternatif yang setara dengan Android.

Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross menjelaskan bahwa Washington berniat untuk memberikan waktu transisi yang lebih panjang bagi perusahaan AS yang bergantung pada teknologi Huawei untuk mengantisipasi kebijakan pembatasan perdagangan.

Seperti yang diindikasikan oleh Ren, pada saat Washington memberikan kelonggaran untuk Huawei, kondisi perusahaan masih sangat berbahaya.

Tanpa intervensi perdagangan AS, Huawei dapat menjadi ancaman besar bagi Samsung untuk menjadi vendor ponsel pintar paling produktif di dunia dan memanfaatkan keunggulannya dalam kapitalisasi teknologi 5G alih-alih menghitung beban dari kerugian penjualan.

Perusahaan tetap dalam posisi yang kuat, tetapi dinamika pertumbuhannya dan kilau teknologi mutakhirnya telah berkurang oleh langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah Amerika.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top