Lembaga Amal Diduga Terkait Terorisme, Polri Gandeng Perbankan Siapkan Pemblokiran Dana

Polri akan bekerja sama dengan pihak perbankan untuk memblokir dan menyita dana milik sejumlah lembaga donasi amal abal-abal yang diduga dimanfaatkan para pelaku tindak pidana terorisme untuk mengumpulkan sumbangan di Indonesia.
Sholahuddin Al Ayyubi
Sholahuddin Al Ayyubi - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  16:05 WIB
Lembaga Amal Diduga Terkait Terorisme, Polri Gandeng Perbankan Siapkan Pemblokiran Dana
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Polri akan bekerja sama dengan pihak perbankan untuk memblokir dan menyita dana milik sejumlah lembaga donasi amal abal-abal yang diduga dimanfaatkan para pelaku tindak pidana terorisme untuk mengumpulkan sumbangan di Indonesia.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol. Dedi Prasetyo mengungkapkan Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror sudah memberikan data sejumlah lembaga donasi amal yang dimanfaatkan kelompok teroris Jamaah Islamiyah (JI) dan Jamaah Ansharut Daullah (JAD). Lembaga donasi amal tersebut dimanfaatkan untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam dan luar negeri.

Menurut Dedi, setelah dana tersebut terhimpun di lembaga donasi amal, kelompok teroris yang ada di belakang layar, tidak menggunakan dana itu untuk kepentingan masyarakat, melainkan untuk membeli bahan peledak dan memuluskan aksi terornya di Indonesia.

"Data nama-nama lembaga donasi amalnya sudah diserahkan ke PPATK untuk ditelusuri, lalu kami akan bekerja sama dengan bank di Indonesia untuk memblokir agar aliran dana itu tidak digunakan untuk aksi teror," tutur Dedi, Kamis (8/8/2019).

Dedi mengimbau agar masyarakat tidak mudah percaya pada lembaga donasi amal yang beredar melalui media sosial. Dia menyarankan agar masyarakat melakukan kroscek dan klarifikasi sebelum melakukan amal ke lembaga donasi.

"Nanti kami akan berikan literasi digital ke publik agar tidak mudah percaya. Masyarakat itu harus betul-betul mampu melakukan konfirmasi dan klarifikasi jika ada lembaga donasi amal [yang muncul] lewat media sosial," kata Dedi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
terorisme

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top