Dampak Perang Dagang Akan Mencapai Puncaknya pada 2021

Perang perdagangan antara Donald Trump dan China terlihat akan menjadi sebuah pertempuran yang akan berlangsung selamanya, bagaikan terowongan yang tak berujung, tidak ada langkah yang jelas untuk mencapai sebuah resolusi.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 07 Agustus 2019  |  13:16 WIB
Dampak Perang Dagang Akan Mencapai Puncaknya pada 2021
Perang dagang AS China - istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Perang perdagangan antara Donald Trump dan China terlihat akan menjadi sebuah pertempuran yang akan berlangsung selamanya, bagaikan terowongan yang tak berujung, tidak ada langkah yang jelas untuk mencapai sebuah resolusi.

Menyusul keputusan yang disampaikan pekan lalu, di mana Trump menetapkan kenaikan tarif dagang tertinggi terhadap China, dia mengatakan bahwa dirinya sudah kehabisan kesabaran dengan Xi Jinping dan menganggap bahwa pemerintah China tidak menilai isu tarif sebagai sebuah urgensi.

Di saat Trump menggambarkan ancaman tersebut sebagai langkah untuk menekan Beijing agar segera menyepakati perjanjian dagang, pihak China merespons dengan strategi mereka sendiri yakni dengan melemahkan nilai tukar mata uang ke level terendah dalam 1 dekade terakhir.

Alih-alih menuruti kemauan Trump, pejabat China justru memberikan respons tegas kepada Washington melalui langkah depresiasi yuan dan mengurangi pembelian kedelai asal AS.

Dilansir melalui Bloomberg, Beijing berjanji akan memberikan respons balasan yang lebih jauh jika Trump memberlakukan ancaman tarif sebesar 10% terhadap impor China pada 1 September.

Barang yang akan terkena dampak tarif antara lain seperti telepon pintar, pakaian, dan mainan anak yang jika digabungkan akan bernilai sekitar US$300 miliar, atau lebih dari tarif eksisting sebesar 25% yang dikenakan pada produk China senilai US$250 miliar.

Menurut Philip Levy, anggota dewan penasihat ekonomi Presiden George W. Bush yang sekarang menjadi kepala ekonom untuk Flexport, mengatakan bahwa Amerika Serikat memulai perang dagang dengan China tanpa memiliki rancangan strategi yang jelas untuk menyelesaikannya.

“Rencana untuk keluar [dari perang dagang] sepertinya adalah kita [AS] akan mengancam mereka [China], mereka akan menyerah dan kemudian kita akan bahagia.' Tapi, sejauh ini belum melihat ada yang membahas tentang opsi bagaimana jika mereka tidak menyerah?'' ujar Levy, seperti dikutip melalui Bloomberg, Selasa (6/8/2019).

Sepertinya hanya Trump yang bersemangat mendorong perang dagang ke tahap yang lebih parah, sedangkan para investor mulai memahami bahwa adanya potensi konflik yang berkepanjangan.

Para trader menghindari ketidakpastian dengan mengalihkan aset mereka ke yen dan emas.

Ekonom Morgan Stanley menyampaikan melalui sebuah catatan riset, jika konflik perdagangan yang diikuti dengan aksi balas-membalas bertahan selama 4 hingga 6 bulan, ekonomi global akan menghadapi resesi dalam 9 bulan berikutnya.

China sejak lama telah mengirimkan sinyal bahwa mereka cukup percaya diri untuk menghadapi serangan tarif Trump. Sejak Mei, Xi telah menggemakan "Long March".

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top