29 Orang Tewas dalam 2 Aksi Penembakan Massal di Texas dan Ohio

Dua aksi penembakan massal yang menewaskan 29 orang di Texas dan Ohio mengguncang dunia perpolitikan AS setelah beberapa kandidat presiden dari Partai Demokrat menuduh Presiden Donald Trump sebaai pemicunya.
John Andhi Oktaveri
John Andhi Oktaveri - Bisnis.com 05 Agustus 2019  |  06:34 WIB
29 Orang Tewas dalam 2 Aksi Penembakan Massal di Texas dan Ohio
Calon presiden dari Partai Demokrat Beto O'Rourke merangkul Patricia Olivera kerabat salah seorang yang selamat di lokasi penembakan massal. Sebanyak 20 orang kehilangan nyawa di Walmart di El Paso, Texas, AS 4 Agustus 2019. - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Dua aksi penembakan massal yang menewaskan 29 orang di Texas dan Ohio mengguncang dunia perpolitikan AS setelah beberapa kandidat presiden dari Partai Demokrat menuduh Presiden Donald Trump sebaai pemicunya.

Mereka mengatakan telah terjadi perpecahan rasial meski Presiden Donald Trump menyatakan "kebencian tidak memiliki tempat di negara kita."

Puluhan orang juga terluka pada Sabtu (3/8/2019) dan Minggu (4/8/2019) dini hari waktu setempat dalam penembakan hanya berjarak dalam waktu 13 jam dari kejadian pertama.

Hal itu mengejutkan negara yang telah menjadi terbiasa dengan penembakan massal sehingga meningkatkan kekhawatiran tentang terorisme domestik.

Pembantaian pertama terjadi pada hari Sabtu pagi di kota perbatasan yang mayoritas berpenduduk kulit berwarna (Hispanik) di El Paso.

Saat itu seorang pria bersenjata menewaskan 20 orang di toko Walmart sebelum akhirnya menyerah. 

Seorang lelaki menempatkan bunga di lokasi sehari setelah penembakan massal, di sebuah Walmart di El Paso, Texas, AS 4 Agustus 2019./Reuters 

Pihak berwenang di Texas mengatakan amukan itu tampaknya merupakan kejahatan yang bermotif rasial. Sedangkan jaksa federal memperlakukannya sebagai kasus terorisme domestik.

Seorang pria bersenjata melepaskan tembakan di distrik pusat kota Dayton, Ohio, Minggu pagi, menewaskan sembilan orang dan melukai sedikitnya 26 lainnya. Penyerang dibunuh oleh polisi, membuat korban tewas untuk kedua penembakan menjadi 30 orang.

Penembakan El Paso bergema di jalur kampanye pemilihan presiden untuk tahun depan. Sebagian besar kandidat presiden dari Partai Demokrat mengulangi seruan untuk membasi senjata yang lebih ketat.

Sebagian mengaitkannya  dengan kebangkitan nasionalisme kulit putih dan politik xenophobia di Amerika Serikat. Beberapa kandidat mengatakan Trump secara tidak langsung harus disalahkan.

"Donald Trump bertanggung jawab untuk ini. Dia bertanggung jawab karena dia memicu ketakutan akan kebencian dan kefanatikan, "kata Senator AS Cory Booker seperti dikuip Reuters, Senin (5/8/2019).

Seorang lelaki meletakkan bendera Amerika Serikat di tumpukan bunga yang telah dikumpulkan sehari setelah penembakan massal di sebuah toko Walmart di El Paso, Texas, AS 4 Agustus 2019./Reuters

Berbicara kepada wartawan di landasan bandara di Morristown, New Jersey setelah menghabiskan akhir pekan di resor golf, Trump mengatakan: "Benci tidak memiliki tempat di negara kita, dan kita akan menanganinya."

Dalam komentar publik pertamanya sejak penembakan, dia mengatakan dia telah berbicara dengan FBI, Jaksa Agung William Barr dan anggota Kongres tentang apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kekerasan seperti itu.

Tetapi dia tidak menawarkan rincian, kecuali untuk mengatakan dia akan membuat pernyataan di Washington pada pagi ini.

Trump memerintahkan bendera pada setengah staf untuk menghormati para korban.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
amerika serikat, penembakan, Donald Trump

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top