Literasi Bencana di Indonesia Masih Dangkal

Peristiwa bencana alam yang memakan banyak korban jiwa menjadi bukti kegagalan dari program pengurangan risiko bencana.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  00:34 WIB
Literasi Bencana di Indonesia Masih Dangkal
Foto udara kondisi kota Palu pascagempa dengan magnitudo 7,4 SR, Sabtu (29/9). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah korban yang meninggal dunia akibat gempa dan tsunami yang terjadi Kota Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9), telah bertambah menjadi 384 orang, sementara jumlah korban yang terluka hingga 540 orang. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Peristiwa bencana alam yang memakan banyak korban jiwa menjadi bukti kegagalan dari program pengurangan risiko bencana. Kondisi itu membuat literasi bencana menjadi penting bagi Indonesia.

Penggiat Literasi Kebencanaan M Isnaeni Muhidin alias Neni Muhidin mengungkapkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) lewat Badan Penggulangan Bencana Daerah (BPBD) tidak jalan dalam mengantisipasi risiko bencana. Kondisi ini yang membuat dibutuhkannya literasi kebencanaan.

"Secara internasional, literasi dasar ada 6, akan tetapi sangat penting bagi Indonesia untuk memiliki literasi kebencanaan. Peristiwa di Palu yang memakan banyak korban jiwa adalah indikasi bahwa program pengurangan risiko bencana yang dilakukan oleh negara lewat BNPB tidak berjalan," ungkapnya kepada Bisnis, Sabtu (27/7/2019).

Dia mengatakan, Indonesia memiliki potensi bencana setiap hari dan selalu memunculkan risiko korban jiwa. Bencana alam tidak bisa dihindari, tetapi jumlah korban jiwa bisa dikurangi bahkan dihindari. Maka dari itu, pria yang akrab disapa Neni merasa penting untuk mengadvokasi literasi kebencanaan di tingkat nasional.

Suka tidak suka, peristiwa bencana alam sangat erat dengan masyarakat. Sebab, Indonesia memiliki banyak gunung berapi, bukit dan garis pantai yang panjang.

Menurutnya, bila berbicara tentang literasi kebencanaan maka orang-orang akan lebih peduli dengan lingkungan. Neni bilang, masyarakat yang sadar literasi bencana, maka akan memahami riwayat lokasi sekitar perkantorannya hingga tempat tinggal.

"Masyarakat sadar literasi bencana sudah memahami keseharian. Kalau di pantai, ada risiko tsunami. Bukit berisiko longsor dan gunung berapi ancamannya adalah gunung itu sendiri," ungkapnya kepada Bisnis. Dia juga menyayangkan atas aksi pemerintah yang masih menomor duakan literasi kebencanaan. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bencana alam

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top